Senin, 09 April 2012

Muzakkir Manaf Coblos di TPS 29 Panton Labu Aceh Utara

Muzakkir Manaf Coblos di TPS 29 Panton Labu Aceh Utara

TEMPO.CO, Lhoseumawe - Muzakkir Manaf, calon wakil gubernur dari Partai Aceh, didampingi istrinya, Salmawati, melakukan pencoblosan di tempat pemungutan suara (TPS) nomor 29 di kompleks Terminal Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, Senin, 9 April 2012.

Muzakkir, yang lebih dikenal dengan sebutan Muallim, tiba di TPS sekitar pukul 10.30 WIB. Dia datang bersama sejumlah anggota Partai Aceh. Setiba di TPS, Muzakkir disambut oleh pengusaha Panton Labu, Ayah Salihin.

Seusai melakukan pencoblosan, kepada wartawan dia mengatakan, jika terpilih, ia akan melakukan percepatan pembangunan di bidang perkebunan, pertanian, dan ekonomi. Ketika disinggung soal penanganan masalah korupsi, “Itu kita serahkan kepada pihak yang terkait untuk menangani persoalan itu,” katanya.

Setelah mencoblos, Muzakkir pulang ke desa asalnya di Desa Manekawan, Kecamatan Seunundon, Aceh Utara, untuk meninjau TPS di sana.

IMRAN MA

Quick Count: Cagub Partai Aceh Unggul di Pemilukada 2012

Salman Mardira - Okezone
Senin, 9 April 2012 19:14 wib
 1  5 0
Peneliti dari CPI memberikan keterangan pers kepada wartawan. (Salman Mardira/Okezone)
Peneliti dari CPI memberikan keterangan pers kepada wartawan. (Salman Mardira/Okezone)
BANDA ACEH- Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Aceh, Zaini Abdullah-Muzakir Manaf unggul dalam perolehan suara sementara Pemilukada 2012.

Hasil perhitungan cepat (quick count) sejumlah lembaga survei menyebutkan pasangan diusung Partai Aceh ini menang di atas 50 persen.

Berdasarkan quick count Lembaga Survei Indonesia (LSI), Zaini-Muzakir unggul perolehan suara 55,74 persen dari empat pasangan rivalnya. Sementara Citra Publik Indonesia (CPI) bekerjasama dengan Lingkaran Survei Indonesia menyatakan pasangan itu menang 54,40 persen.

Menurut Chandra Hendarnoto, peneliti CPI, quick count ini dilakukan pada 350 sampel Tempat Pemungutan Suara (TPS) dari 9.786 TPS yang ada. Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Perhitungan ini melibatkan 350 relawan yang ditempatkan ditiap TPS.

Sampling error lebih kurang sebanyak 1 persen,” kata Chandra dalam konferensi pers di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Senin (9/4/2012) sore.

Dalam perhitungan ini, CPI membagikan delapan zona yaitu Aceh I terdiri dari Banda Aceh, Aceh Besar dan Sabang.

Aceh II (Pidie dan Pidie Jaya), Aceh III (Aceh Jaya, Aceh Barat dan Nagan Raya), Aceh VI (Bireun, Bener Meriah, Aceh Tengah), Aceh V (Aceh Utara, Lhokseumawe).

Kemudian Aceh VI (Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang) Aceh VII (Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan Subulussalam) serta Aceh VIII (Aceh Barat Daya, Aceh Selatan dan Simeulu).

“Pasangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf unggul hampir di semua zona, kecuali zona VII,” ujar Chandra.

Dalam quick count CPI, pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan berada diperingkat kedua dengan perolehan suara 29,88 persen, kemudian pasangan Muhammad Nazar-Nova Iriansyah yang diusung Partai Demokrat, PPP dan Partai Tiga meraup 7,77 persen suara.

Selanjutnya pasangan Darni M. Daud-Ahmad Fauzi memperoleh 4,84 persen suara dan diperingkat terakhir pasangan Teungku Ahmad Tajuddin-Teuku Suriansyah memperoleh 3,84 persen suara.

Chandra menambahkan dari data sampel yang masuk 100 persen, diketahui tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilukada Aceh kali ini mencapai 78,38 persen.

Survei LSI
Direktur Komunikasi Publik Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi mengatakan, berdasarkan quick count pihaknya, pasangan Zaini-Zikir meraih 55,66 persen suara.

Disusul pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan dengan 28,58 persen, Muhammad Nazar-Nova Iriansyah 7,61 persen, Darni M Daud-Ahmad Fauzi 4,23 persen suara dan Teungku Ahmad Tajuddin-Teuku Suriansyah 3,7 persen.

Sampling errornya lebih plus minus 2 persen,” kata dia kepada wartawan.

LSI mengambil sampel 310 TPS dengan melibatkan 400 relawan.
Kedua lembaga survei tersebut mengatakan perhitungan cepat ini dilakukan secara independen

Ratusan Narapidana Kibarkan Bendera Partai Aceh di Lapas

       Kibarkan Bendera PA. Dua orang Napi di Lapas Kelas II A mengibarkan tiga lembar bendera Partai   Aceh, dipintu empat penjara sebagai bentuk protes kepada Pemerintah, akibat tidak bisa memilih. BP/Miadi
       Kibarkan Bendera PA. Dua orang Napi di Lapas Kelas II A mengibarkan tiga lembar bendera Partai    Aceh, dipintu empat penjara sebagai bentuk protes kepada Pemerintah, akibat tidak bisa memilih. BP/Miadi
       Kibarkan Bendera PA. Dua orang Napi di Lapas Kelas II A mengibarkan tiga lembar bendera Partai   Aceh, dipintu empat penjara sebagai bentuk protes kepada Pemerintah, akibat tidak bisa memilih. BP/Miadi
      Amankan Lapas: Sat I Gegada Kelapa Dua Depot Mabes Polri, dan pasukan Mapolres Lhokseumawe  amankan Lapas Kelas II A  Lhokseumawe, pada aksi ratusan napi sandra tong suara Pemilukada Aceh. BP/Miadi
   Amankan Lapas: Sat I Gegada Kelapa Dua Depot Mabes Polri, dan pasukan Mapolres Lhokseumawe    amankan Lapas Kelas II A  Lhokseumawe, pada aksi ratusan napi sandra tong suara Pemilukada Aceh. BP/Miadi


Ratusan Napi Kibarkan Bendera Partai Aceh
“Di Lapas Kelas II Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE- Ratusan narapidana di Lembaga Permasyaratan (Lapas) Kelas II A Lhokseumawe, mengibarkan tiga lembar Bendera Partai Aceh, didalam Lapas sebagai bentuk protes, akibat tidak diberikan hak pilihnya, Senin (9/4) sekira pukul 12.00 WIB.

Mengamuknya para napi itu, juga sempat menyandra tong suara gubernur/walikota, selama hampir 5 jam. Kondisi itu, membuat geger Kota Lhokseumawe dan Provinsi Aceh, sehingga menurunkan seratusan personil Sat I Gegana Kelapa Dua Depot, Mabes Polri dan personil Mapolres Lhokseumawe.

Awalnya, warga Lapas yang berhak memberikan suara pada Pemilukada 9 April kemarin, berjumlah 95 orang di TPS 12 Lapas Kampung Jawa Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Namun,  dari jumlah itu 37 napi diantaranya sudah bebas masa tahanan di Lapas, sehingga yang berhak memberikan suara 58 napi. Kemudian ditambah 18 napi lagi yang mempunyai formulir A 8 atau pindahan DPT dari TPS lain tempat warga Napi berdomisi, seperti di Kota Lhokseumawe, Aceh Utara dan Bireuen. Tentunya, total yang berhak memilih hanya 76 napi dari jumlah 420 napi di Lapas Kelas II Lhokseumawe.  

Menurut Ketua Lapas Kelas II Lhokseumawe, Edy Teguh Widodo, bagi warga Lapas yang tidak berhak memilih itu, karena sudah dicabut hak pilihnya karena rata-rata masa hukuman mereka diatas lima tahun. “Jadi sesuai aturan yang berlaku, jika ada napi yang jatuh hukuman penjara diatas lima tahun, maka dengan sendiri hak pilihnya hilang,”cetusnya.

Pantauan blangporoh.blogspot.com, upaya negosasi untuk mengambil tong suara yang disandra dalam lapas terus dilakukan oleh Ketua Lapas, termasuk Ketua DPRK Lhokseumawe, Saifuddin Yunus, Jurubicara PA Wilayah Samudera Pase, Nasrullah Dahlawy, Ketua BRA Lhokseumawe, Hamdani. Namun, para napi tetap pada pendirian semula asal bisa milih maka baru dikembalikan tong suara tersebut.

Walaupun perwakilan Napi sudah dipanggil keruang, tapi upaya negosasi yang disampai perwakilan napi kepada rekan-rekannya juga tidak menerima. Malah, mereka langsung mengamuk dan menaikan bendera Partai Aceh, sebanyak tiga lembar dipintu keempat dalam Lapas Klas IIA Lhokseumawe.

“Kami terus melakukan upaya negosasi dan memberikan masukan dan pencaraha agar mereka mengembalikan tong suara. Kemudian, pada pukul 16.40 WIB, ratusan Napi baru mengembalikan tong suara yang disandra itu dalam kondisi utuh dan dilakukan penghitungan suara gubenur/walikota,”jelas anggota Panwaslu Kota Lhokseumawe, H. Muhammad AH, kepada blangporoh. blogspot.com. Kata dia, penghitungan suara itu juga disaksikan oleh para ratusan napi tersebut bersama petugas PPS, KPPS dan para saksi.

Turut hadir Kapolres Lhokseumawe, AKBP Kukuh Santoso, Waka Polres Lhokseumawe, Kompol Syahrul, Dandim 0103 Aceh Utara, Letkol Inf Agus Tri Antoni dan para petinggi Mapolres Lhokseumawe bersama pasukan Sat Gegana Kelapa Dua Depot, Mabes Polri. (adiporoh).

Kota Lhokseumawe Di Malam Hari

Taman Lampu Lhokseumawe, menyala pada malam hari hingga membuat keindahan tersendiri Kota Julukan Petro Dollar, Kota Lhokseumawe, penghasil minyak dan gas tahun 1980-an silam. BP/Miadi.

Senin, 17 Mei 2010

Warga Miskin Di Pedalaman Acut Belum Miliki Jamban

ACEH UTARA-Masyarakat miskin dikecamatan pedalaman di Aceh Utara, hingga saat ini masih ada yang belum memiliki jamban atau tempat buang air besar. Bahkan, untuk membuang air besar itu hanya memanfaatkan hutan disekitar rumah, tanpa memikirkan kesehatan mereka.

Pasalnya, jika membuang air besar secara sembarangan dihutan atau membuat kakus didalam terbuka, akan rentan terhadap terjangkitnya wabah penyakit. Apalagi kotaran warga yang dibuang tersebut maka dihinggapi lalat, lalu terbang kerumah penduduk serta menghampiri makanan.   

Informasi yang diterima wartawan koran ini, umumnya masyarakat miskin yang tidak memiliki jamban, karena faktor ekonomi keluarga belum mampu untuk membangun wc dirumahnya. Kondisi itu, harus ada peran serta dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara, untuk membangun jamban umum di kecamatan pedalaman dan pesisir Aceh Utara. 

Demikian disampaikan Kepala BPS Aceh Utara (Acut), Husnul Khalik, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, kemarin. Kata dia, hal itu berdasarkan laporan sementara data sensus penduduk yang diterima dirinya dari petugas dilapangan.

“Hampir semua kecamatan pedalaman dan pesisir, masih ada warga miskin yang belum memiliki wc atau jamban pribadi serta umum. Sementara selama ini hanya membuang air besar di hutan,”ucap Husnul Khalik. Menurut dia, kondisi itu harus menjadi perhatian khusus Pemerintah Aceh Utara, untuk mencari solusi terhadap warga yang belum memilik wc pribadi supaya dapat dibangun jamban umum.

“Apalagi ketika petugas kami datang kerumah penduduk untuk sensus, warga selalu menanyakan untuk apa didata ini dan apakah akan diberikan bantuan termasuk membangun jamban,”jelas Husnul. (arm)

BEM Unimal Gelar Debat Kandidat Rektor

“Berlangsung Selasa 18 Mei 2010”
REULEUT- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Malikussaleh (Unimal) Reuluet, Aceh Utara, akan menggelar debat kandidat rektor pada Selasa 18 Mei besok, di Aula Sultan Malikussaleh, kampus setempat.

Ketua BEM Unimal, Zulfikar, kepada Rakyat Aceh, kemarin, mengatakan, siapapun yang terpilih nantinya menjadi Rektor Unimal, maka wajib menjalankan sepenuhnya kontrak akademik. Begitu juga dalam menerapkan visi dan misi Unimal kedepan, demi kemajuan dan kejayaan kampus Unimal.

“Jadi dalam debat kandidat rektor itu, bertujuan untuk menyampaikan visi dan misi ke 4 calon rektor di depan seluruh civitas akademika Unimal. Kegiatan ini dilaksanakan langsung oleh mahasiswa secara independent dengan panitia bersama seluruh elemen mahasiswa di bawah koordinasi BEM Unimal,”ucap Zulfikar.

Sebut dia, peserta yang akan mengikuti kegiatan tersebut meliputi mahasiswa, dosen, karyawan dan alumni. “Debat kandidat rektor ini kita langsungkan secara terbuka dan akhr acara ini akan ada penandatangnan kontrak akademik ke 4 calon rektor dengan mahasiswa,”cetusnya.

Sementara keempat calon rektor itu, yakni H Khusrizal (Dekan Fakultas Pertanian), H Rasyidin (Pembantu Rektor Purek I), Bakhtiar (Pembantu Rektor III) dan Jamaluddin yang kini tercatat sebagai dosen Fakultas Hukum Unimal. Tentunya, keempat calon tersebut akan bertarung untuk memperebutkan tampuk pimpinan Universitas Malikussaleh (Unimal). (arm)
 

Utang Menumpuk, Gaji Guru Honorer Murni Belum Jelas

  “Pemko Tutup Mata Korbankan Nasib Guru”
LHOKSEUMAWE-Nasib para tenaga honorer murni di Kota Lhokseumawe, semakin tidak jelas statusnya. Betapa tidak, selama empat bulan ini mereka belum menerima jerih payahnya dari Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe. Terhitung dari Januari, Februari, Maret dan April 2010.

Pasalnya, hingga memasuki minggu ketiga bulan Mei ini, gaji tenaga honorer murni dan termasuk guru belum jelas proses pencairannya. Walaupun, sebelumnya pada awal April lalu, tandatangan amprah gaji sudah dilakukan. Seperti para guru honorer murni yang disedorkan dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahrga Kota Lhokseumawe, untuk penandatangan amprah gaji dimaksud.

“Kita merasa heran saja, kenapa proses pencairan gaji sangat lambat. Seharusnya kalau kami sudah tanda tangan amprah gaji, berarti paling lama dalam waktu satu minggu sudah dapat dicairkan gaji kami,”ucap sejumlah tenaga honorer murni, kepada Rakyat Aceh, yang enggan namanya dipublikasi, kemarin.

Sebut mereka, selama empat bulan gaji belum dicairkan, maka terpaksa ngutang kepada orang lain dan kini sudah menumpuk utang tersebut.”Kalau kita tidak ngutang sama orang lain, mau makan apa karena gaji selalu dibayar terlambat dan tidak tepat pada waktunya, bayangkan tahun ini kami belum pernah gajian,”ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Lhokseumawe, Ir. Marwady Yusuf, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, via telepon selulernya, kemarin, mengatakan, kebiasaannya proses pencairan gaji tenaga honorer murni tidak lama. “Misalnya, kalau data amprah gaji telah dikirimkan oleh SKPD terkait kepada kita, maka dalam satu hari itu gajinya dapat dicairkan,”jelas Marwady.

Saat ditanya wartawan koran ini, khususnya untuk guru honorer murni, apakah amprah gaji sudah kirim kepada pihaknya, Marwady, mengaku belum dapat memastikan sudah atau belum. “Besok (hari ini,red) akan kita cek ke bawahan saya, apakah amprah gaji guru honorer murni sudah dikirimkan untuk pencairan gaji,”imbuhnya. (arm)