Sabtu, 30 Mei 2009

Drama Pencarian Jufrizal, Korban Penculikan

Ahad, 31 Mei 2009 10:57
Polisi Ditembaki Penculik
Dua Tersangka Diringkus, Sandera Raib

IDI RAYEUK-Perburuan kawanan pelaku penculikan Jufrizal benar-benar menegangkan. Bak film action, petugas kepolisian ditembaki oleh kawanan bandit yang sudah terkepung. Meski tersangka berhasil dilumpuhkan, namun sandera tetap tak ditemukan. Keinginan keluarga untuk bertemu Jufrizal (18) secepatnya harus dibatalkan.
Pasalnya, siswa SMU yang bermukim di Lhokseumawe dan telah beberapa hari ditangan penculik tetap urung ditemukan. Padahal, dua tersangka terkait kasus tersebut sudah berhasil diringkus.Aksi baku tembak antara bandit ini tak terelak saat petugas melakukan penyergapan di sudut Kota Idi Aceh timur. Aparat dari jajaran Mapolres Aceh Timur dibantu Tim Khusus (timsus) Mapolda Aceh, Sabtu (30/5) siang sekira pukul 13.00 berusaha untuk menghadang komplotan bersenpi.

Kedua tersangka saat ini diamankan ke komando adalah Mar alias Mayu bin Mar (20) warga Gampong Keramat, Kota Lhokseumawe dan Saf (30) warga Desa Pusong Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Sedangkan teman mereka yang lain berhasil kabur dalam pengepungan tersebut. Pihak kepolisian pun hingga kini meminta bantuan TNI untuk mengejar dan melacak keberadaan kawanan penculik lainnya.

Akibat aksi tembak menembak, suasana Kota Idi sempat tegang. Masyarakat takut keluar rumah, lantaran terdengar letusan senjata sambung-menyambung. Apalagi polisi di keramaian kota sempat mengeluarkan tembakan peringatan ke udara. Sedangkan kawanan bandit tak urung menyambutnya dengan peluru dari senpi masing-msing. Kapolres Aceh Timur, AKBP Drs. Ridwan Usman, kepada Metro Aceh mengatakan, sebelum baku tembak terjadi, petugas mencurigai satu unit mobil Inova warna Silver BK 1239 VJ milik bandit melaju dari arah Kota Peureulak. Persis di depan SPBU Peudawa beriringan dengan mobil Innova milik anggota Intel Mapolres Aceh Timur, dengan arah yang sama ke barat.

“Karena mencurigakan aparat polisi berhenti. Saat mau didekati, pengemudi mobil Innova langsung tancap gas melarikan diri. Merasa buruan mau kabur, polisi segera mengejar dan tembakan pun mulai diarahkan ke sasaran. Tanpa diduga, salah satu komplotan mengeluarkan senjata melalui kaca mobil.

Mereka kemudian menyerang petugas yang berada dibelakangnya," ujar Ridwan.Melihat kondisi jalan ramai dan padat kendaraan, membuat aparat si hanya membalas dengan tembakan peringatan ke atas. Ternyata hal itu tak membuat nyali penjahat jadi ciut. Mereka terus memberondong polisi. Aksi kejar-kejaran baru berakhir setelah lima kilometer dari lokasi pertama. Kawanan bandit diperkirakan ingin menuju arah pusat Kota Idi, berbelok ke kanan. Karena terlalu tajam, ditambah kecepatan mobil yang tinggi, akhirnya mobil inova menabrak cincin sampah dan pohon asam.

“Dari dalam mobil itu keluar empat orang. Dua diantaranya memegang senpi laras pendek dan panjang. Mereka langsung lari terpencar, namun sambil lari polisi masih melakukan tembakan ke udara, namun pelaku membalas tembakan ke arah polisi,” jelas Kapolres.Tak ingin kehilangan buruan, polisi segera meminta bantuan guna mengepung lokasi. Beberapa saat setelahnya, dari hasil penyisiran ditemukan dua tersangka. Namun temannya yang lain kabur dan tak diketahui. Kuat dugaan mereka masih berada di kawasan Kota Idi, sehingga pengamanan terus diperketat. Menurut keterangan tersangka, mereka mengakui penculikan itu. Namun sandera tidak bersama saat kejadian dan berada di tangan kelompok yang lain.
Polres Lhokseumawe Lakukan Penyisiran
Sementara itu dari Lhokseumawe, sejumlah personil polisi jajaran Mapolresta Lhokseumawe yang diback up personil Polda Aceh melakukan penyisiran terhadap pelaku penculikan Jufrizal (18) siswa asal Kecamatan Simpang Kramat. Pada penyisiran tersebut kapolres dan wakapolres turun langsung pada tiga lokasi terpisah.

Pada penyisiran tersebut, sejumlah pengendara diperiksa oleh petugas yang melewati lokasi penyisiran. Sedangkan lokasi penyisiran di lakukan di dua tempat terpisah, yaitu Kecamatan Samudera, Muara Satu dan Banda Sakti. Usaha penyisiran dan penyergapan ini dilakukan mulai pukul 11.00 wib. Sebab diinformasikan para pelaku penculikan akan melewati jalan negara.

Pantauan wartawan koran ini, petugas keamanan yang sedang melakukan razia memberhentikan dengan hormat sejumlah pengendara. Lalu petugas memeriksa identitas pengendara dan melihat wajah pengendara. Mengingat saat ini petugas telah mengetahui identitas dari sejumlah pelaku. Bahkan ada dua sepeda motor yang diamankan karena tidak memiliki surat lengkap serta tidak mempunyai plat nomor polisi.

Hingga berita ini diturunkan polisi masih terus melakukan penyisiran dengan lokasi berpindah pindah. Bahkan penyisiran kini telah dilakukan hingga ke daerah Peurelak Kabupaten Aceh Timur. “Saat ini kita masih terus melakukan penyisiran hingga sampai peurelak,”ujar kapolres Lhokseumawe AKBP Zulkifli kepada wartawan koran ini, Sabtu (30/5).

Seperti diberitakan sebelumnya, polisi telah mengantongi identitas pelaku dan juga lokasi para pelaku penculikan. Sementara itu memasuki hari keempat polisi masih terus melakukan pengejaran dan korban belum juga dilepas. Tetapi pelaku kini menurunkan tebusan mereka dari Rp.3 Miliar menjadi Rp.500 juta. Sedangkan Jufrizal (18) siswa asal Kecamatan Simpang Kramat diculik pada Selasa malam (26/5) sekira pukul 23.00 wib oleh pelaku bersenjata yang mengendarai kijang innova warna silver. (ris/agt/arm)

Kamis, 28 Mei 2009

DPT Pilpres Aceh Utara Berkurang
“DPT Telah Ditetapkan”

ACEH UTARA- Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Utara, telah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu Presiden (Pilpres) pada 8 Juli mendatang. Dengan jumlah warga yang termasuk dalam DPT tersebut mencapai 351.743 jiwa dari 27 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara.

Sementara penetapan DPT itu sendiri berlangsung di Aula KIP setempat, Kamis (28/5) yang turut dihadiri oleh Ketua dan anggota KIP serta Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan lainya. Berdasarkan hasil DPT Pilpres kemarin, terjadi pengurangan jumlah pemilih dan TPS dari Pemilu Legislatif 9 April lalu, dengan Pemilu Presiden mendatang.

“Pengurangan jumlah pemilih mencapai 10.432 orang, jika dibandingkan dengan pemilih pada Pemilu Legislatif lalu, yakni 362.175 orang. Hal itu disebabkan banyak ditemukan pemilih ganda dan bisa jadi waktu pendataan terdahulu datanya tidak akurat,”ucap Ketua Pokja Pantarlih (Pendaftaran Pemilih) Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Utara, Lailan Fajri, kepada Blang Poroh Berita, kemarin.

Kata dia, penetapan jumlah pemilih tersebut, juga berdasarkan hasil verifikasi ulang yang dilakukan pihaknya selama ini bersama 27 PPK dan 852 PPS di di Kabupaten Aceh Utara. Kemudian DPT Pilpres itu langsung di kirimkan ke KIP Aceh untuk dapat ditetapkan DPT tingkat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Selain itu, sebut Lailan, jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) di 27 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara, mencapai 993 TPS, dengan jumlah DPT 351.743 jiwa. Sedangkan,jumlah pemilih pada Pemilu Legislatif lalu, mencapai 362.157 jiwa dan 1.176 TPS.

“Jadi untuk Pemilu Presiden nantinya satu TPS maksimal 800 pemilih. Dan sangat berbeda dengan Pemilu Legislatif lalu, untuk satu TPS hanya 500 pemilih. Ini semua berdasarkan keputusan dari KPU,”imbuhnya. (arm)

Paud Amanah Cerdaskan Anak Bangsa

LHOKSEUMAWE- Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Amanah, hadir di Kota Lhokseumawe, dalam rangka untuk mendidik anak usia dini menjadi anak cerdas, sehat, mandiri dan berakhlak mulia.

Paud Amanah tersebut berada di Jalan Samudera, No 1 di Gampong Lancang Garam, Kecamatan Banda Sakti, yang resmi dibuka dan dipeusijuek Kamis (28/5) pagi kemarin. Lembaga ini juga bergerak dibawah naungan Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kota Lhokseumawe.

Pembina Himpaudi dan Pengelola Lembaga Paud Amanah, M. Yacob, SE,AK, kepada Blang Poroh Berita, disela-sela acara peresmian dan peusijuek, mengatakan, dalam pelaksanaan pembelajarannya Paud Amanah dibimbing oleh tenaga pendidik dan pengasuh yang terampil serta berpengalaman.

“Jadi kami disini akan mengajarkan anak-anak usia dini dengan menggunakan metode pembelajaran centra dan lingkaran (BCCT/ ato beyuond centra cirkle time). Untuk tahap ini kami juga membuka pendaftarkan bagi 60 anak usia dini,”ucap M. Yacob.

Sebut dia, dengan keberadaan Paud Amanah ini di Kota Lhokseumawe, paling tidak dapat memberikan motivasi kepada lembaga-lembaga Paud lainnya. Dimana sesuai yang telah di amanatkan oleh Pemerintah melalui Dirjen bahwa pendidikan di mulai sejak usia dini yang merupakan usia emas bagi tumbuh dan berkembangnya seorang anak.

Lanjut M. Yacob, melalui Himpaudi ini tenaga-tenaga pendidik akan dibina untuk menjadi tenaga pendidik yang profesional, dengan fasilitas yang tersedia Paud Amanah ini mampu memberikan pelayanan kepada 60 orang peserta didik. “Lembagai ini kita jadiakan sebagai Taman Penitipan Anak (TPA) kelompok bermain dan taman kanak-kanak,”ujarnya. (arm)

Rabu, 27 Mei 2009

Pelajar Simpang Kramat Diculik Pria Bersenjata

* Pelaku Minta Tebusan 3 M Tempo 2 Hari*

SIMPANG KRAMAT- Kasus penculikan dengan menggunakan senjata api kembali terjadi di Kabupaten Aceh Utara. Kali ini seorang pelajar, Jufrizal (18) warga Keude Simpang Empat Kecamatan Kuta Makmur diculik OTK, Selasa malam (26/5) sekira pukul 23.00 wib. Hingga saat ini personil polres Lhokseumawe yang diback up personil Polda NAD sedang mencari pelaku.

Informasi yang diterima Metro Aceh, pelaku penculikan dikabarkan mengendarai mobil kijang innova warna silver. Dari saksi mata diketahui bahwa pelaku membawa senjata api laras panjang dan juga laras pendek. Saat itu korban sedang duduk di sebuah warung di desa tersebut yang menyediakan permainan Play Station.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Zulkifli membenarkan adanya laporan penculikan yang terjadi di Kecamatan Simpang Kramat Selasa malam. Pihaknya sudah meminta keterangan keluarga korban dan sejumlah saksi. Sementara itu sejumlah personil Polres Lhokseumawe yang dibantu personil Polda Nad sedang melakukan penyelidikan.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan pihak Polres Lhokseumawe. Kini sejumlah personil sudah kita turunkan untuk mengusut dan mengejar pelaku. Hingga saat ini kita belum dapat memastikan apa motif penculikan dan siapa pelakunya,”terang kapolres. Terkait kejadian ini, kapolres menghimbau agar masyarakat yang mau membantu pihaknya. “Kita menghimbau kepada sejumlah masyarakat agar dapat melaporkan kepada kami. Jika disekitar mereka melihat dan mengetahui keberadaan pelaku maupun korban,”harap kapolres.

Menurut kakek korban, Ibrahim Yahya dirinya mengatahui cucunya diculik dari warga di desanya. Pada saat itu cucunya pergi menuju sebuah warung tempat biasanya bermain play station dengan sepeda motor. Baru saja dirinya duduk bersama teman-temannya, tiba-tiba datang sebuah mobil dan berhenti persis di depan warung.

“Tidak lama berhenti, dua orang berperawakan sedang turun dari mobil. Keduanya menenteng senjata, satu pakai senjata laras panjang dan satu lagi seperti pistol. Sambil mengokang senjata keduanya langsung membawa paksa cucu saya,”terang Ibrahim kepada wartawan koran ini, Rabu (27/5). Mendapat laporan ini, dirinya langsung menghubungi ayah korban yang tinggal di Lhokseumawe. “Saat mendapat kabar tersebut saya lalu memberitahukan ayahnya yang tinggal di Lhokseumawe. Sebab selama ini Jufrizal tinggal bersama saya sejak ayahnya kerja ke Jepang,”terang Ibrahim.

Sementara itu, orang tua korban, Ahmad Ilyas (40) yang mengetahui bahwa anaknya telah diculik langsung menuju kampungnya. Setelah itu dirinya langsung membuat laporan kepada pihak Polres Lhokseumawe. Namun sejauh ini dirinya belum mengetahui kondisi dan keberadaan anaknya.“Setelah kejadian tadi malam, saya lalu menelpon HP Jufrizal. Tetapi yang mengangkatnya malah pelaku dan mengatakan “urusannya besok dikantor jam 10”. Setelah itu HP milik anak saya tidak aktif lagi hingga hati ini,”terang Ahmad kepada wartawan yang mengaku belum setahun kembali ke Lhokseumawe.

Lanjutnya, selama ini dirinya bekerja pada sebuiah perusahaan spare part mobil di Jepang. Dirinya baru kembali ke Aceh sejak bulan puasa lalu atau belum genap satu tahun. Sementara saat ini dirinya sedang membangun sebuah toko di kampungnya di Keude Simpang Kramat.

“Intinya sampai saat ini kami belum tahu apa motif penculikan tersebut. Menurut saya selama ini tidak pernah bermasalah dengan seseorang. Begitu juga anak saya juga tidak pernah menceritakan kalau dia punya masalah dengan pihak lain,”terangnya. Ditanya apakah ada ancaman dari pelaku atau minta tebusan? Ayah korban membenarkannya, sebab sekira pukul 10.00 wib masuk telpon mengaku dari penculik. Mereka minta sejumlah uang tebusan dan juga voucher pulsa kepada ayah korban.

“Pelaku minta uang tebusan berjumlah 3 M dalam tempo dua hari. Hingga saat ini saya belum memberikan uang tebusan itu, apalagi jumlahnya sangat besar,”terangnya. Sementara itu, empat orang saksi yang melihat langsung kejadian juga dipanggil pihak polres untuk dimintai keterangan. Kepada wartawan koran ini, empat saksi mata membenarkan kalau mereka melihat korban dibawa oleh orang bersenjata yang menaiki kijang innova.

“Pada malam itu Jufrizal baru saja sampai di warung tempat play station. Namun belum lagi dirinya main dan minum yang dipesannya. Tiba-tiba datang sebuah mobil innova berwarna silver berhenti di depan warung. Lalu turun dua orang dengan menenteng senjata laras panjang memakai baju kaos coklat dan satu lagi memkai pistol,”terang saksi yang namanya tidak mau ditulis.

Setelah itu, sambung saksi lainnya, pelaku masuk warung dan mengatakan “dua orang keluar”. Malah pelaku yang memegang senjata laras panjang mengokang senjatanya dan langsung membawa korban. “Pada saat itu kami mendengar korban mengatakan ada apa ini bang. Tetapi pelaku menjawab nanti saja tahu dikantor. Saat itu kami tidak berani berbuat apa-apa saat melihat korban dibawa oleh pelaku. Setelah itulah kami melaporkan kejadian ini kepada kakeknya Jufrizal,”terang saksi mata. (agt)

Warga Miskin Dambakan Kebutuhan Air Bersih

ACEH UTARA- Diperkirakan ribuan warga miskin yang berdomisili di kecamatan pedalaman dan pesisir Kabupaten Aceh Utara, sangat membutuhkan sarana air bersih yang layak dikonsumsi. Pasalnya, selama ini banyak warga miskin tersebut ada yang mengkonsumsi air bersumber dari sungai, payau dan lainnya.

“Berdasarkan pantau kita sampai saat ini mereka menggunakan air dari sumur galian dan pengeboran galian serta dengan terjadinya pengeboran berakibat pada akan kesediaan air tanah berkurang,”ucap Kepala Kantor Penghubung Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser Kabupaten Aceh Utara, Muntazar, kepada Rakyat Aceh, Jum’at (27/3).

Dia mengatakan, sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara bersama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mon Pase setempat untuk dapat memikirkan dan merasa peduli terhadap kebutuhan air bersih bagi masyarakat miskin.

“Jadi solusi yang harus ditempuh oleh pimpinan daerah dan PDAM Tirta Mon Pase, dapat segera membuat perencanaan dan melakukan pekerjaan secara menyeluruh serta jangan pilih kasih dalam setiap pembangunan. Karena air bersih itu merupakan kebutuhan mendasar terhadap masyarakat baik miskin maupun kaya,”ujarnya.

Selain itu, sebut Muntazar, jika ada setiap kebijakan Pemerintah Kabupaten tidak menyentuh terhadap masyarakat miskin maka dirinya merasa prihatin karena kalau bukan pemerintah yang memberikan kemudahan bagi mereka menyangkut air bersih, jadi siapa lagi orangnya.(arm)

Usai Belajar di LPDS, Reporter RRI Dipecat

ARF News
Sabtu, 27 Januari 2007
Penulis : Masriadi Sambo

Lhokseumawe, acehmagazine.com- Usai mengikuti pelatihan jurnalistik di Jakarta pada awal Januari 2007, Armiadi, (25) reporter RRI Cabang Lhokseumawe dipecat. Dia mengikuti Pelatihan Jurnalistik di Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), Jakarta yang didanai oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias.

Surat PHK diterimanya dari seorang staf RRI saat dia ke gedung di Jalan Petuah Ibrahim, Tumpok Tengoh Lhokseumawe itu. Pasalnya Armiadi, mengikuti diklat LPDS bukan atas nama RRI, namun menggunakan nama media lain. Surat itu 15 Januari 2007 dengan nomor 16.A/CAMA-LSW/SEK/2007. ”Kita tidak memberi izin untuk Armiadi mengikuti pelatihan itu. Karena, selama mengikuti pelatihan dia tidak melaksanakan tugas kedinasan,” ujar Manajer Seksi Penyiaran RRI Agung Prasetyawan, Jumât (26/1) kepada acehmagazine.com.
Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Cabang RRI Lhokseumawe Mirza.”Masak dia Armiadi minta izin malam hendak berangkat ke Jakarta. Inikan tidak etis,” ujarnya pada acehmagazine.com ini, Jumât (26/1). Armiadi menyebutkan dirinya telah meminta izin berkali-kali pada Manajer lembaga penyiaran publik itu. “Saya heran kok malah dipecat. Padahal saya udah berkali-kali minta izin pada manajer Bang Agung,” ucapnya yang bekerja di RRI sejak 2002.
Pria yang masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh ini menyatakan manajemen RRI tidak pernah memberi izin pada reporter untuk mengikuti pelatihan. Selama ini, dirinya mengikuti pelatihan jurnalistik dari lembaga-lembaga lain, tanpa diketahui oleh manajemen RRI. Mengenai bekerja untuk media lain, Armia menyebutkan honor di RRI Rp 150.000 per bulan.
Sementara itu, Mirza menyebutkan pihaknya telah melakukan penandatanganan surat perjanjian kerja dengan Armiadi dengan uang lelah Rp. 150.000 per bulan. Mengenai dia bekerja di media lain, Mirza beralasan tidak efektif. Surat perjanjian kerja yang bertanggal 30 September 2006 dengan nomor 181/CAMA-LSW/SEK/2006 disebutkan pihak RRI tidak memberikan surat peringatan pertama dan kedua pada tenaga pembantu siaran karena telah disosialisasikan, pihak RRI langsung memberikan surat pemutusan hubungan kerja.

Lebih jauh disebutkan dalam surat tersebut, apabila karyawan tidak masuk kerja selama tujuh hari dalam seminggu, maka manajemen memotong gaji Rp 5000. Karyawan tidak menuntut perumahan dan sarana transportasi serta karyawan honor tidak menuntut manajamen untuk diangkat menjadi PNS di lembaga penyiaran itu. “Namun, mengenai uang pemotongan Rp 5.000 itu tidak pernah kita lakukan,” papar Mirza.
AJI Advokasi
Ketua AJI Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lhoseumawe Ayi Jufridar mengatakan seharusnya RRI merasa diuntungkan karena wartawannya mendapat pelatihan jurnalistik di LPDS atau lembaga lainnya. “Itu untuk meningkatkan SDM Wartawan, kok malah dipecat,” ujarnya. Lebih jauh dia menyebutkan pihaknya telah mengirimkan surat untuk Serikat Pekerja AJI Indonesia dan di tembuskan ke LPDS dan Dewan Pers. Ditambahkan, posisi kontrak kerja itu melemahkan posisi wartawan. Masak uang lelah hanya Rp. 150 ribu per bulan tidak manusiawi dan jika wartawan ada kesalahan tanpa diberikan surat peringatan namun langsung dipecat,”ujarnya.

Mampukah APBK 2009 Akan Terealisasi 80 Persen

ACEH UTARA- Beberapa kalangan masih meragukan target realisasi APBK Aceh Utara tahun 2009 bisa mencapai 80 persen dari jumlah anggaran senilai Rp 1,4 triliun. Pasalnya, hingga bulan Mei ini belum ada satu pun proyek pembangunan yang sedang dikerjakan dilapangan.

Namun, seperti diberitakan sebelumnya, Sekdakab Aceh Utara, Ir. Syahbuddin Usman, M.Si, mengatakan, saat ini ada beberapa dinas sedang melakukan pengumuman proses tender proyek pembangunan.

“Paling tidak jika tender sudah selesai maka pada bulan Juni mendatang, proyek pembangunan dapat dilaksanakan dilapangan,”ucap Sekdakab, seraya menambahkan, bagi dinas-dinas yang belum menenderkan proyek dapat langsung melakukan sebagaimana mestinya. Dengan harapan, agar nantinya pembangunan di Aceh Utara dapat mencapai target, sehingga tidak terjadi lagi Silpa pada setiap akhir anggaran.

Lain halnya yang disampaikan Direktur Eksekutif LSM Reuncong Aceh, Zainal Abidin Badar, SH. M.Hum, kepada Rakyat Aceh, kemarin, kalau kita lihat dari permasalahan yang sedang terjadi di tubuh Pemkab saat ini, hal itu mustahil bisa tercapai realisasi proyek pembangunan 80 persen. Apalagi, pasca bobolnya rekening milik Pemkab di Bank Mandiri Jalembar Jakarta Barat, senilai Rp 20 miliar.

Sebut Zainal, kondisi yang terjadi sekarang adalah untuk gaji guru honorer dan gaji perangkat desa dan tuha peut, juga belum dibayar oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. “Coba bayangkan hampir lima bulan para guru honorer, guru bakti murni dan lainnya belum menerima hasil jerih payahnya berupa gaji yang diterima oleh mereka,”ucap Jimbron sapaan akrabnya.

Kata dia, bagaimana pemerintah mau melakukan pengumuman tender proyek, untuk gaji tenaga pendidik dan perangkat desa saja belum tahu kapan akan dicairkan. Sementara guru honor dan bakti murni di Kota Lhokseumawe, sudah menerima gaji mereka walaupun yang diberikan baru tiga bulan dari Januari sampai dengan Maret lalu.

Namun, kenapa di Kabupaten Aceh Utara, masih menahan realiasi gaji para tenaga pendidik tersebut. apakah karena APBK 2009 sedang bermasalah pasca bobolnya rekening Pemkab di Bank Mandiri Jalembar, Jakarta Barat. “Jadi sangat tidak mungkin proyek pembangunan 2009 di Aceh Utara, akan terealisasi hingga mencapai 80 persen,”imbuhnya. (arm)

Selasa, 26 Mei 2009

Ribuan Guru Bakti dan Honda Belum Terima Gaji

ACEH UTARA- Sebanyak 2.115 guru bakti murni dan guru honor daerah (honda) di Kabupaten Aceh Utara, hingga kini belum menerima gaji sejak bulan Januari sampai dengan Maret 2008. Padahal, mereka sangat membutuhkan gaji tersebut untuk kebutuhan keluarganya. Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara, belum juga menyalurkan kepada mereka.

Kondisi itu akan berdampak buruk bagi proses belajar mengajar disekolah, apalagi menjelang persiapan Ujian Nasional (UN) yang sudah diambang pintu, yakni pada bulan April mendatang. Seharusnya, pemerintah lebih memperhatikan nasib para guru tersebut.

“Keterlambatan pembayaran gaji kami bukan terjadi pada tahun ini saja. Akan tetapi sudah setiap tahun,”ujar salah seorang guru bakti munir, asal Kabupaten Aceh Utara, kepada Rakyat Aceh, Jumat (21/3), yang enggan namanya dipublikasi.

Dia mengatakan, saat mempertanyakan kejelasan gaji tersebut ke dinas terkait, selalu beralasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) tahun 2008 belum disahkan. “Jika terus menunggu pengesahan APBK itu, sehingga kami sebagai guru bakti murni terpaksa harus berutang untuk membeli kebutuhan keluarga,”keluhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Pemkab Aceh Utara, Muhammad Jamil, M.Kes, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, melalui telepon selulernya, kemarin, dirinya membenarkan belum membayar gaji guru bakti murni dan honor daerah.

“Sebenarnya bukan kita tidak membayar gaji mereka, tapi kita harus menunggu pengesahan APBK tahun 2008. Apabila anggaran itu belum disahkan, kita pun belum bisa melakukan pembayaran gaji mereka,”jelas M. Jamil.

Untuk itu dia meminta kepada guru baik berstatus bakti murni maupun honor daerah, agar dapat bersabar menunggu pengesahan APBK tahun 2008. Karena, untuk gaji mereka sudah diusulkan dalam APBK dengan jumlah keseluruhan mencapai Rp 7 milyar selama tahun 2008. “Tentunya, bagi para guru tersebut jangan beranggap terhadap gaji mereka sengaja tidak kami salurkan,”imbuhnya. (arm)

Krueng Geukueh Butuh Ratusan Rumah Dhuafa

KRUENG GEUKUEH- Ratusan masyarakat miskin di Kota Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, kini sangat membutuhkan rumah bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat dan Pemerintah Aceh.

Selama ini kondisi rumah dhuafa di Kecamatan Dewantara dari 15 gampong sangat tidak layak huni lagi. Bahkan, proposal permohonan bantuan yang diajukan oleh warga dhuafa ke Kantor Camat Dewantara mencapai ratusan unit. Namun, pihak kecamatan belum bisa berbuat banyak apalagi dalam tahun 2009 ini Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, tidak mengalokasikan dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) setempat. Dengan alasan untuk pembangunan rumah dhuafa diusulkan melalui bantuan Otonomi Khusus (Otsus) Provinsi Aceh.

Camat Dewantara, H. M. Yunus, saat dikonfirmasi wartawan koran ini, di Lhokseumawe, Senin (25/5), mengatakan, pada tahun 2008 lalu pihaknya hanya mendapatkan rumah dhuafa sekitar 15 unit untuk 15 gampong. “Jadi setiap satu gampong memperoleh satu unit rumah dhuafa bersumber dari APBK Aceh Utara tahun 2008,”ucap H.M. Yunus.

Sebut dia, meskipun dalam tahun 2009 akan ada bantuan rumah dhuafa dari Otsus Provinsi Aceh, tentunya pihak kecamatan dapat dilibatkan karena yang mengetahui persis kondisi kehidupan masyarakat miskin atau dhuafa hanya pihaknya. “Kita dari kecamatan dapat mengelompokkan terhadap warga dhuafa yang membutuhkan rumah bantuan. Misalnya, kelompok pertama adalah kondisi rumah dhuafa yang mendesak untuk dibangun, kelompok kedua tergolong sedang dan kelompok ketiga dapat dikatagorikan menengah,”imbuhnya. (arm)

Mahasiswa Fakultas Ekonomi Juarai Business Plan

ACEH UTARA- Tim mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Malikussaleh (Unimal) Reuluet, Aceh Utara, berhasil menjuarai business plan dan makalah terbaik, dalam kegiatan Andalas Economics Competition tahun 2009 di Universitas Andalas Padang.

Acara tersebut, berlangsung selama tiga hari sejak 13-16 Mei lalu yang diikuti oleh lima Universitas, yakni Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, Universitas Jambi, IAIN Padang, Universitas Andalas Padang dan Universitas Negeri Padang.

Sementara kegiatan yang diperlombakan bagi peserta adalah tentang business plan dan makalah terbaik. Namun, selama kegiatan itu berlangsung tim mahasiswa dari Fakultas Ekonomi, Unimal, Aceh Utara, terpilih sebagai juara terbaik tingkat Regional Sumatera. Sedangkan, nama pesertanya adalah, Fauzan Ishak, Cika Setiadi, Nurhasanah dan Fiziatanita.

Ketua DPM Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh (Unimal) Reuluet, Aceh Utara, Habibillah, saat mendatangi Kantor Perwakilan Lhokseumawe, Rakyat Aceh-Metro Aceh, Senin (25/5), mengatakan, pihaknya dari kalangan mahasiswa akan terus berjuang untuk memajukan kampus Unimal kearah yang lebih baik kedepan.

“Tentunya, kita dari Fakultas Ekonomi akan terus mengikuti even-even perlombaan hasil karya mahasiswa ketingkat lokal dan nasional. Sehingga dari sekarang kami melakukan beberapa persiapan,”ucap Habibillah. Sebut dia, ketika mengikuti kegiatan Andalas Economics Competition tahun 2009 di Universitas Andalas Padang, mengirimkan dua tim peserta dan setiap tim tersebut terbagi dalam empat orang peserta. Namun, dari dua tim itu hanya satu yang berhasil menjuarai tingkat Regional Sumatera.

Kedatangan Ketua DPM Fakultas Ekonomi itu, ke Kantor Perwakilan Lhokseumawe, Rakyat Aceh-Metro Aceh,juga membawa tiga dari empat mahasiswa yang terpilih dalam juara Andalas Economics Competition tahun 2009. (arm)

Bupati : Kedaulatan Berada Di Tangan Rakyat

ACEH UTARA- Undang-undang dasar 1945 merupakan hukum dasar yang bukan hanya menjadi dokumen penting. Namun, juga mengandung aspek lain seperti pandangan hidup, cita-cita dan falsafah yang merupakan nilai-nilai luhur bangsa.

Tentunya, untuk menjadi landasan dalam penyelenggaraan negara. Oleh karena itu, bagi seluruh komponen masyarakat bangsa, baik penyelenggara negara maupun masyarakat harus memahami secara utuh dan menyeluruh terhadap UUD 1945.

Demikian disampaikan Bupati Aceh Utara, Ilyas A.Hamid, melalui Sekdakab setempat, Ir Syahbuddin Usman, M.Si, saat memberikan sambutan pada acara sosialisasi putusan MPR-RI kepada 300 orang peserta yang berlangsung di Aula Sekdakab Aceh Utara, Senin (25/5).

Sebut Sekda, begitu juga dengan ketetapan dan keputusan MPR RI, terutama setelah adanya perubahan undang-undang dasar negara Republik Indonesia tahun 1945. Dimana, harus dapat dipelajari dan dipahami bersama, karena salah satu perubahan penting setelah dilakukannya perubahan UUD adalah rumusan yang terdapat dalam pasal 1 ayat (2). Dengan bunyi pasal tersebut adalah, “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar,”.

Rumusan pasat 1 ayat (2) undang-undang dasar negara Republik Indonesia tahun 1945 sebelum perubahan menyatakan bahwa, “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.”

“Jadi perubahan ini tentu saja membawa implikasi terhadap kedudukan, tugas dan wewenang MPR. Hal ini menjadi satu fokus penting untuk dipahami bersama serta faktor inilah yang menjadi salah satu tujuan dilaksanakannya sosialisasi hari ini,”ujarnya.

Sementara itu, bertindak sebagai narasumber dalam acara tersebut, yakni, Tim Kerja Sosialisasi Putusan MPR-RI Kelompok VI yang diketuai oleh Dr. H. Hakim Sorimuda Pohan bersama empat anggotannya, DR. Andi Yuliani, Nursyamsi Nurlan, Drs. Abdhi Sumaithi dan Drs. Nursyamsa Hadi. (arm)


Kontak Senjata Pasukan Brimob dan Warga Sipil

[ Selasa, 26 Mei 2009 ]
Di Tanah Hitam Abepura
JAYAPURA - Belum terungkap pelaku yang menembaki rumah dinas Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe SIp Sabtu lalu (23/5), insiden serupa terjadi tak jauh dari Kota Jayapura. Tepatnya di atas bukit RT 3 Tanah Hitam Abepura. Kemarin (25/5) terjadi kontak senjata antara pasukan Brimob dan warga sipil bersenjata.
Tidak ada konban jiwa dari baku tembak ini. Namun, masyarakat sekitar kini merasa khawatir kalau keluar rumah. Khususnya untuk pergi ke kebun tempat terjadinya baku tembak. Semula Minggu lalu (24/5) sekitar pukul 15.30 WIT seorang warga RT 3 Tanah Hitam bernama Bahar diserang beberapa orang dengan panah ketika berada di kebun. Para penyerang itu datang tiba-tiba dengan wajah dicoreng moreng.
Mereka berusaha melukai Bahar dengan melepaskan beberapa anak panah. Beruntung anak panah itu tidak mengenai Bahar. Korban berhasil melarikan diri menuruni bukit. Para pelaku yang tidak berhasil melukai Bahar akhirnya melampiaskan kekesalan dengan membakar sebuah pondok milik penduduk Tanah Hitam yang jaraknya cukup jauh dari permukiman penduduk.
Dari informasi tersebut, pukul 11.00 WIT kemarin jajaran Polsekta Abepura yang dipimpin Kapolsekta AKP Dominggus Rumaropen SSos bersama tim Opsnal dan di-backup tujuh anggota Brimob menggunakan persenjataan lengkap mendatangi lokasi.Kapolsek bersama rombongan mengumpulkan data awal mengenai kondisi medan yang berupa bukit tersebut, sebelum melanjutkan perjalanan.
Bersama beberapa warga sebagai penunjuk jalan, rombongan berangkat menuju bukit. Setelah 15 menit, rombongan sampai di bukit pertama, tak jauh dari lokasi penyerangan yang dilakukan sekelompok orang. Setelah menunggu setengah jam sambil mempelajari dan mengamati lokasi, tim Brimob menangkap sesuatu yang mencurigakan dengan jarak sekitar 200 meter di atas ketinggian. Salah seorang anggota Brimob memastikan bahwa yang dilihat adalah warga sipil bersenjata api jenis SS1 sambil mengarahkan senjata menuju rombongan. Setelah diamati dengan kamera wartawan, barulah dipastikan bahwa yang bersangkutan memang hendak menembak.
Tanpa menunggu lama, anggota tersebut melepaskan tembakan ke arah orang bersenjata itu. Tampak dari layar kamera, warga tadi sempat terpental karena kaget mendengar bunyi tembakan. Tembakan itu kemudian dibalas beberapa kali, tapi tidak mengenai sasaran. Anggota tim lain yang menyusul dari arah bawah bukit langsung merespons dengan ikut menembaki pelaku.
Setelah tiga menit, aksi baku tembak berhenti. Warga (petani) setempat yang melihat aksi tersebut tampaknya kaget dan langsung berkumpul di beberapa titik untuk mengamankan diri. Situasi akhirnya tenang. Selama setengah jam, petugas terus memantau pergerakan si penembak. Polisi kembali melihat gerakan yang mencurigakan dari lokasi pertama. Tidak ingin kecolongan, tim Opsnal dan tujuh anggota Brimob langsung menghujani tembakan ke sasaran.
Namun, setelah dua menit berlangsung, sama sekali tidak terlihat jatuhnya korban. "Dia (pelaku penembakan) sepertinya langsung bersembunyi di balik bukit setelah mendengar tembakan pertama tadi," tutur salah seorang anggota Brimob sambil mengamati lokasi tersebut. Pantauan Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group) yang ikut dalam rombongan, lokasi kebun tempat penembakan memang sangat terbuka karena hanya ditanami pohon cabe dan sayur kol. Karena itu, meski sembunyi-sembunyi, pelaku tetap terlihat.
"Dari pengamatan kami, memang terlihat seorang warga sipil bersenjata yang juga menembaki kami beberapa kali. Untungnya, tidak ada yang terkena," jelas Kapolsek saat ditemui di sebuah pondok. Setelah menunggu dua jam dan dipastikan pelaku melarikan diri, sekitar pukul 15.30 WIT rombongan meninggalkan lokasi. (ade/jpnn/end)
Loncat- Anak-anak di Gampong Matang Mane, Kota Blang Jruen, sedang meloncat kedalam saluran irigasi untuk mandi. Foto dijepret Selasa (26/5). Mia/BPB

Sabtu, 23 Mei 2009

Warga Pertanyakan Pasar Terpadu Belum Berfungsi

LHOKSEUMAWE- Sejumlah warga Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, mempertanyakan kepada Pemerintah Kota (Pemko) setempat, belum mengfungsikan Pasar Terpadu di kawasan jalan pase. Akibatnya, kondisi bangunan yang terbuat dari papan sudah mulai lapuk dan terbengkalai.

Tidak hanya, disekitar lokasi Pasar Terpadu yang dibangun selama hampir satu tahun lebih, sudah banyak jumpai rumput-rumput lebat. Sepertinya, jika lihat bangunan ini sudah telantarkan begitu saja tanpa difungsikan oleh Disperindakop dan Pemerintah setempat.

“Sangat kita sayangkan bangunan yang sudah dibangun itu kini menjadi tempat berteduhnya hewan ternak ketika turun hujan. Seharusnya, Pasar Terpadu tersebut bisa difungsikan sebagaimana mestinya,”ucap Iskandar (40) warga Banda Sakti, kepada Rakyat Aceh, Jum’at (22/5). Kata dia, jika Pasar Terpadu itu belum juga difungsikan paling tidak dinas terkait dapat membersihkan lingkungan disekitar pasar. Sehingga rumput-rumput yang mulai tumbuh bisa teratasi dengan membabatnya.

Sementara itu, Walikota Lhokseumawe, Munir Usman, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, kemarin, menyebutkan, pihaknya membantah jika katakan Pasar Terpadu ditelantarkan dan belum kita fungsikan mempunyai alasan tersendiri. “Kan ada tahapan-tahapanya, karena untuk pemasangan arus listrik dan perangkat lainnya melalui proses tender. Jadi bagaimana mau menempatkan para pedagang kalau listrik saja belum ada. Nanti malah kita di komplin memberikan tempat yang belum lengkap,”ucap Walikota Lhokseumawe.

Untuk itu, Munir Usman, meminta kepada masyarakat agar dapat bersabar menunggu peresmian Pasar Terpadu tersebut, karena sampai saat ini masih dalam proses tender untuk pemasangan listrik dan perangkat lainnya. (arm)

Kamis, 21 Mei 2009

Polisi Ringkus Tersangka Penipuan Handphone

Kapolsek Banda Sakti sedang mintai keterangan tersangka
penipuan handphone, Kamis (21/5). BPB/Mia

“Awas Penipuan Handphone di Konter Ponsel”

LHOKSEUMAWE- Aparat kepolisian dari Mapolsek Banda Sakti, berhasil meringkus seorang tersangka penipuan handphone jenis Nokia 5610 milik Reza Fazil (20) warga Blang Poroh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Tersangka tersebut bernama Marwan (20) asal warga Utuen Bayi, Kecamatan Banda Sakti, ditangkap oleh polisi di Jalan Darussalam, didepan salah satu kios di samping Rumah Sakit Umum Bunda, kecamatan setempat, Rabu (20/5) sekira pukul 20.30 WIB. Kini tersangka itu sedang menjalani proses pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatannya.

Informasi yang diterima wartawan koran ini, awalnya Reza Fazil membuat handphonenya di Ponsel Tamita Rizki di depan Lapangan Hiraq Kota Lhokseumawe, pada Sabtu (9/5) lalu sekira pukul 20.00 WIB.

Ketika itu, handphonen korban diterima oleh tersangka Marwan tanpa membuat kwetansi. Namun, korban tetap meminta kwetansi kepada tersangka dengan alasan sebagai bukti bahwa ada membuat handphone ditempat dia bekerja. Akhirnya, tersangka bilang tidak perlu buat kwetansi karena besok sudah siap handphonenya dan dapat segera diambil di ponsel. “Karena merasa tidak curiga terhadap tersangka dengan harapan handphone saya sudah selesai pada hari Minggu tanggal 10 Mei lalu, sesuai apa yang telah dijanjikan oleh tersangka,”ucap Reza Fazil, saat mendatangi Kantor Perwakilan Lhokseumawe, Rakyat Aceh-Metro Aceh, kemarin.

Kata dia, pada hari Minggu itu dirinya bersama seorang temannya mau mengambil handphone di ponsel tersebut, akan tetapi Marwan tidak masuk kerja. Kemudian menanyakan kepada pemilik ponsel Tamita Rizki, Ayi tentang keberadaan tersangka. Lalu pemilik ponsel itu balik menanyakan perihal keperluannya terhadap Marwan, sehingga korban langsung menceritakan bahwa dirinya membuat handphone bersama Marwan. “Selanjutnya, Bang Ayi itu meminta kwetansi pembuatan handphone kepada saya. Namun, saya bilang Marwan tidak memberikan kwetansi sehingga pemilik ponsel tidak mau bertanggung jawab dan saya menanyakan alamat rumah Marwan,”jelas Reza Fazil.

Selain itu, sebut Reza, merasa dirinya sudah tertipu pada hari-hari berikutnya mendatangi ponsel tersebut, tetapi Marwan tetap tidak masuk kerja, hingga hari Kamis lalu. Bahkan, saat menghubungi handphone milik tersangka mengatakan dia sedang berada di Banda Aceh. Kemudian, pada Kamis malam lalu, dirinya bersama teman dan pemilik ponsel mendatangi rumah tersangka yang berada di Gampong Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti. “Saat saya datang kerumah Marwan, kebetulan dia sedang berada di rumahnya. Kemudian saya meminta balik handphone, tapi Marwan bilang handphone saya berada sama temanya dan berjanji besok hari Jum’at siang akan dikembalikan handphone dan bertemu di ponsel,”ucap Reza lagi.

Namun, sambung Reza Fazil, pada Jum’at siang itu dirinya langsung mendatangi ponsel Tamita Rizki. Sementara tersangka tidak muncul-muncul, meskipun sudah ditunggu selama dua jam, walaupun sudah ditanyakan kepada pekerja di ponsel tersebut tentang Marwan, sejauh ini dia belum datang ke ponsel. Akhirnya, merasa sudah ditipu oleh tersangka pada sore Jum’at itu Rezal Fazil yang didampingi oleh seorang temannya langsung membuat pengaduan ke Mapolsek Banda Sakti terhadap perihal tersebut.

Kapolresta Lhokseumawe, AKBP Zulkifli, melalui Kapolsek Banda Sakti, Iptu Adi Sofyan, saat dikonfirmasi Metro Aceh, mengatakan, begitu menerima laporan pengaduan tersebut pihaknya langsung melakukan pengembangan kasus untuk menangkap tersangka. Bahkan, pada hari Selasa lalu, korban sudah dimintai keterangan untuk membuat BAP.

“ Tadi malam (malam kemarin,red) sekira pukul 20.30 WIB, kita berhasil menangkap tersangka yang sedang duduk di kios di samping Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda, di Jalan Darussalam, Kecamatan Banda Sakti,”ucap Kapolsek. Sebut Iptu Adi, berdasarkan hasil keterangan tersangka handphone itu sudah digadaikan kepada temanya seharga Rp 300 ribu. Dengan demikian lanjut Adi Sofyan, pihaknya terus melakukan penyelidikan dan pengembangan lebih lanjut terhadap teman tersangka yang telah mengadaikan handphone korban. (arm)

Rabu, 20 Mei 2009

Geureudong Pase Butuh Ratusan Unit Rumah Dhuafa

GEUREUDONG PASE- Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, kini membutuhkan 265 unit rumah kaum dhufa yang tersebar di 12 gampong di kecamatan setempat. Kondisi ratusan unit rumah tersebut sangat tidak layak huni lagi, sehingga dibutuhkan perhatian dari Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat.

Dari 12 gampong itu, yakni untuk Gampong Peudari, 25 unit rumah, Darul Aman 10 unit, Rayeuk Jawa 20 unit, Dayah Seupeng 20 unit, Leubok Kliet 15 unit, Pulo Meuria 20 unit, Lhok Asan 20 unit, Krueng Mbang 25 unit, Uram Jalan 20 unit, Darussalam 25 unit, Suka Damai 20 unit dan gampong Alue Awe 20 unit.
Demikian disampaikan Camat Geureudong Pase, Fuad Mukhtar,S.Sos, kepada Rakyat Aceh, kemarin. Dia mengatakan, jumlah kebutuhan rumah dhuafa tersebut berdasarkan hasil pendataan pihaknya selama ini dilapangan. “Dan itu merupakan program peningkatan perumahan bagi masyarakat miskin atau dhuafa di Kecamatan Geureudong Pase. Kita dari muspika hanya mengusulkan saja kepada Pemkab Aceh Utara, terhadap kebutuhan rumah dimaksud,”ucap Fuad Mukhtar.

Selain itu, sebut Fuad, dalam jangka waktu dua tahun terakhir ini rumah dhuafa yang sudah berhasil bagi masyarakat miskin mencapai 23 unit, masing-masing, bantuan dari Pemkab Aceh Utara, tahun 2007 hanya 6 unit dan tahun 2008 sebanyak 11 unit. Kemudian, bantuan dari Pemerintah Aceh tahun 2008 juga 6 unit. Lanjut dia, pihaknya akan terus berupaya untuk mencari solusi terhadap kebutuhan rumah dhuafa yang sangat dibutuhkan saat ini di Kecamatan Geureudong Pase. Dengan tujuan, agar nantinya semua rumah dhuafa yang tidak layak huni bisa mendapatkan bantuan rumah dari pemerintah. (arm)

Diduga Terlibat Bobol Rekening, Ketua Kadin Aceh Utara Gol!

Sumber: www.rakyataceh.com
Kamis, 21 Mei 2009 10:32

JAKARTA- Usai ditetapkan sebagai tersangka, Ketua Kadin Aceh Utara, M Basri Yusuf, resmi jadi tahanan Polda Metro Jaya, Selasa (19/5). Ditahannya salah seorang tim asistensi Pemkab Aceh Utara ini karena ada dugaan kalau tersangka ikut bekerjasama dalam melakukan pembobolan rekening Pemkab Aceh Utara di Bank Mandiri Kantor Cabang Pembantu Jelambar, Jakarta Barat.

“ M Basri Yusuf langsung ditahan oleh Polda Metro Jaya, sekira pukul 19.30 WIB, Selasa (19/5) malam, usai ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi,”ujar Jafaruddin SH, selaku kuasa hukum Pemkab Aceh Utara, kepada Koran ini, melalui telepon selular, kemarin. Menurut pria ini, Polda Metro Jaya juga akan meminta keterangan saksi kepada Salahuddin, asal Banda Aceh, yang juga pengurus Kadin di Banda Aceh, dan seorang lagi Zulhafni, Bendahara Umum Daera (BUD) Kabupaten Aceh Utara. “ Salahuddin dimintai keterangan hari Jumat ini (22/5), sementara Zulhafni, pada hari Senin (25/5). Ini jadwal pemeriksaan yang telah diberikan oleh Polda Metro Jaya,” sebut Jafaruddin. Bahkan pria ini mengatakan kalau hari ini (kemarin-red), tidak ada agenda apa-apa dalam pemeriksaan terhadap para saksi.
Menyinggung bupati dan wakil bupati Aceh Utara apakah akan dilakukan pemeriksaan juga untuk dimintai keterangan, menurut Jafaruddin, hingga saat ini belum ada keterangan apa-apa dari Polda Metro Jaya. “Jadwal itu belum ada keterangan sama sekali dari Polda Metro Jaya,”ujarnya singkat.
Pansus DPRK Deposito Mulai Bekerja

Lembaga DPRK Aceh Utara telah membentuk pansus terkait penggunaan dana APBK Aceh Utara yang didepositokan tanpa sepengetahuan. Pembentukan pansus ini bermaksud untuk mengusut dugaan ketimpangan yang dilakukan pihak eksekutif dalam pendepositoan dan belanja daerah. Jadi pembentukan pansus bukan untuk mencari siapa yang salah terhadap bobolnya rekening.
Menurut salah seorang anggota pansus, Tgk.H.Syamsul Bahri, SH, sejak Rabu (20/5) pansus sudah mulai bekerja. Dalam waktu dekat ini, pihak pansus melalui pimpinan akan segera mengirimkan surat kepada dinas pejabat pengelolaan keuangan daerah (PPKD). Hal ini dilkukan agar pihak PPKD dapat menyiapkan dokumen lengkap yang berkaitan dengan deposito.
“Kita meminta agar pihak PPKD dapat menyiapkan dokumen terhadap pendopositoan dana daerah sejak tahun 2008 dan 2009. Hal ini penting kita lakukan untuk melihat perbandingan pendapatan deposito tahun sebelumnya dengan kondisi saat ini. Jadi kita hanya mencari dimana ada ketimpangannya bukan untuk menentukan siapa atau memutuskan siapa yang bersalah,”terang Tgk.Syamsul yang bakal menjadi sekretaris pansus deposito.
Setelah data dan dokumen diberikan, nantinya pihak pansus akan melakukan pembahasan sepihak dengan PPKD. “Dari dokumen dan data itu nantinya kita akan minta kejelasan kepada pihak eksekutif terkait penggunaan dana tersebut. Kalau menyangkut dugaan pembobolan, itu sudah masuk dalam kriminal dan urusannya aparat penegak hukum.
Tetapi diharapkan dengan adanya hasil pansus nanti juga dapat membantu proses penyelidikan terkait aliran dana tersebut,”harapnya. Ditanya apakah ada batas waktu yang diberikan pansus kepada PPKD untuk menyiapkan dokumen? Syamsul mengatakan tentunya ada dan diharapkan dalam waktu dekat harus sudah ada. “Kita baru akan menyurati pihak PPKD melalui pimpinan DPRK Aceh Utara. Pansus ini perlu diketahui kita lakukan karena menindak lanjuti salah satu fungsi dewan yaitu pengawasan,”ucapnya.
Tim Asistensi Harus Diperiksa
Ketua Badan Pekerja Latim Corruption Watch (LCW) Hamdani, SE mendesak pihak penyidik agar melakukan pemeriksaan kepada semua anggota Tim Asistensi Bupati Aceh Utara. Hal ini tentunya terkait bobolnya dana Deposito Pemkab Aceh Utara Pada Bank Mandiri Jelambar hari lalu.
“Kita berharap agar semua yang terlibat dalam tim asisten dimintai keterangan oleh penyidik. Upaya ini sangat perlu dilakukan pihak penyidik, mengingat hampir semua anggota tim memiliki peluang yang sama dalam melaksanakan tugas dan berbagai masukan terhadap bupati. Sehingga dapat berdampak terhadap penggrogotan anggaran daerah,”terang Hamdani.

Amatan LCW dari sejumlah pemberitaan selama ini, terindikasi ada skenario sejak awal pemindahan uang Aceh Utara ke bank di luar Lhokseumawe. Tindakan ini tentunya merupakan kesengajaan para anggota tim dan Bupati serta Wakil Bupati untuk mendapatkan fee dari pihak ketiga yang memanfaatkan dana deposito tersebut.
“Dengan modus operandi dilakukan pihak Bupati, adalah mendepositokan dana daerah kepada Bank tersebut. Tentunya setelah mendapatkan komitmennya untuk dapat mencairkan kembali dengan membagi-bagikan kepada pihak ketiga. Sehingga pihak ketiga mengiming imingkan fee yang besar dalam memanfaatkan dana dimaksud,”ulas ketua badan pekerja LCW dalam rilisnya yang dikirim ke harian Rakyat Aceh, Rabu (20/5). (agt/arm/msi)



Ribuan Warga Banda Sakti Terima BLT

LHOKSEUMAWE- Sebanyak 4.524 Rumah Tangga Miskin (RTM) asal Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) senilai Rp 200 ribu/ RTM dari Kantor Pos Lhokseumawe. Pembagian bantuan tersebut dilangsungkan di kawasan KP3 Kecamatan Banda Sakti, Minggu (17/5), yang turut dihadiri oleh Kepala Kantor Pos Lhokseumawe, Khairil Anwar, Camat Banda Sakti,Irsyadi,S.Sos. Tidak hanya itu, dalam pembagian BLT ini juga terlihat sejumlah personil polisi dari Mapolresta Lhokseumawe yang berjaga-jaga di sekitar lokasi penyaluran bantuan dimaksud.

Ribuan warga dari 18 kelurahan dan gampong di Kecamatan Banda Sakti, rela berdesak-desakan dan berantrian demi mendapatkan BLT senilai Rp 200 ribu/RTM. Bantuan itu diberikan untuk bulan Januari dan Februari 2009, karena alokasi dana dari Pemerintah Pusat untuk BLT tahun ini hanya dua bulan. Kepala Kantor Pos Lhokseumawe, Khairil Anwar yang didampingi Camat Banda Sakti,Irsyadi,S.Sos, kepada Rakyat Aceh, kemarin, mengatakan, pembagian bantuan tersebut dilakukan dari pagi hingga sore hari. Bahkan, jika belum selesai juga maka akan dilanjutkan pada Senin besok (Senin hari ini,red) di Kantor Pos Lhokseumawe.

Sebut dia, untuk wilayah Kota Lhokseumawe, penerima BLT mencapai 11.991 RTM. Masing-masing asal Kecamatan Banda Sakti, 4.524 RTM, Blang Mangat 2.664 RTM, Muara Dua, 2.178 RTM dan Kecamatan Muara Satu 2.625 RTM. Sementara total penerima BLT tahun 2009 yang membawahi Kantor Pos Lhokseumawe, mencapai 138.709 RTM. Yakni untuk Rumah Tangga Miskin Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, Bireuen, Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Sedangkan jumlah dana bantuan langsung tunai ini yang disalurkan untuk empat kabupaten dan satu kota di Aceh, sebesar Rp 27 miliar.

Selain itu, ungkap dia, total dana BLT tahun 2008 lalu yang telah disalurkan kepada masyarakat miskin senilai Rp 95 miliar di Kabupaten Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Bireuen, Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. “Mudah-mudahan dengan bantuan BLT tahun ini, walaupun hanya diberikan dalam waktu dua bulan dapat membantu masyarakat miskin yang membutuhkan perhatian pemerintah,”ujarnya, seraya menambahkan, selama ini pihaknya hanya bertugas untuk menyalurkan bantuan yang dikirimkan dari pemerintah pusat melalui Kantor Pos Lhokseumawe. (arm)

Jalan Listrik Banda Sakti Rusak Parah

LHOKSEUMAWE- Sepanjang 2 kilometer Jalan Listrik kawasan Pasar Inpres, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, mengalami rusak parah selama dua tahun terakhir ini. Bahkan, sejauh ini ruas badan jalan tersebut belum dilakukan perbaikan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Lhokseumawe.

Sejumlah warga Banda Sakti, kepada Rakyat Aceh, kemarin, mengatakan, kerusakan badan jalan dimaksud sudah banyak di jumpai lubang-lubang besar yang digenangi air hujan, ibarat kubangan. Bahkan, badan jalan yang dulunya pernah diaspal, kini sudah terkelupas disana sini dan sangat berbahaya bagi pengguna jalan akan terjadi kecelakaan sepeda motor saat tersangkut dalam lubang tersebut.

Tidak hanya itu, warga setempat pada akhir tahun 2008 lalu, sebagai aksi protes terhadap pemerintah terpaksa menaman pohon pisang dikawasan jalan yang mengalami rusak parah. “Dulu kita sering mendengarkan informasi jalan rusak banyak dijumpai di gampong-gampong pedalaman di Kota Lhokseumawe. Akan tetapi saat ini, jalan rusak berada dalam wilayah kota Kecamatan Banda Sakti,”cetus Zainal (40) warga Banda Sakti, kepada wartawan koran ini, kemarin.

Sementara itu, Kepala Dinas PU Kota Lhokseumawe, Kamaruzzaman, kepada Rakyat Aceh, Rabu (20/5), mengatakan, terkait jalan yang mengalami rusak parah tersebut sudah mempunyai alokasi dana dari APBK Lhokseumawe, 2009. “Untuk pembangunan jalan ini sepanjang 2 kilometer akan menghabiskan anggaran dana mencapai Rp 3 miliar lebih. Kini sedang proses tender dan tinggal kita tungga saja hasil pengumuman hasil tender, sehingga baru diketahui pihak pelaksana proyek dimaksdu,”ucap Kadis PU.

Sebut dia, masyarakat jangan beranggapan kondisi jalan rusak itu sengaja ditelantarkan tanpa perhatian dari Pemerintah Kota (Pemko). Namun, dari tahun 2008 sudah mempunyai program untuk pembangunan jalan yang tidak layak pakai lagi, melalui anggaran 2009 ini. “Mungkin, kalau proses tender sudah selesai maka pada pertengahan atau akhir bulan Juni mendatang, pembangunan jalan sudah dapat dikerjakan dilapangan. (arm)



Depkes RI Periksa Sample Darah Warga Sido Mulyo


ACEH UTARA- Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia (RI), kini sedang menindak lanjuti pemeriksaan sample darah warga Sido Mulyo, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, yang sempat terserang penyakit aneh awal bulan lalu. Pemeriksaan sample darah tersebut, Depkes memberikan limit waktu selama 28 hari, terhitung dari tanggal pengajuan sample yakni 5 Mei lalu. Hasil sample darah itu, dinilai penting diketahui untuk menjadi rujukan dan sebagai langkah-langkah antisipasi terhadap penderita penyakit dimaksud.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Drs. M. Hasan, M.Kes, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, Rabu (20/5), mengatakan, sejauh ini pihaknya masih menunggu hasil lab dari Departemen Kesehatan (Depkes) RI, terkait kasus penyakit aneh yang diderita oleh belasan warga Sido Mulyo, Kecamatan Kuta Makmur.

Dimana belasan warga tersebut, secara tiba-tiba terserang penyakit aneh. Sehingga membuat Dinas Kesehatan Aceh Utara, untuk melakukan pemeriksaan darah warga sekitar 10 orang yang dijadikan sebagai sample. “Sample darah itu, sudah kita kirimkan kepada Dinkes Provinsi Aceh dan dari Provinsi juga sudah melanjutkan dengan mengirimkan lagi ke lab Departemen Kesehatan RI,”ucap M. Hasan. Sebut dia, hasil pemeriksaan lab sangat penting sehingga dapat diketahui sumber penyakit apa yang sempat diderita oleh masyarakat Sido Mulyo. Menurut M.Hasan, jika sumber penyakit sudah ada dan diketahui kita bisa langsung melakukan upaya pencegahan. Dengan tujuan, apabila penyakit itu terulang kembali dapat ditindak lanjuti.

Selain itu, ungkap M. Hasan, kondisi kesehatan belasan warga dan termasuk 10 warga yang dianggap parah terserang penyakit aneh, sudah mulai normal serta sehat kembali. Dengan demikian, pihak dari Dinas Kesehatan Aceh Utara, mengajak kepada seluruh masyarakat dan khususnya di Kecamatan Kuta Makmur, untuk dapat menjaga lingkungan yang bersih dan bebas dari sumber penyakit. “Paling tidak, kita di desa-desa pedalaman dapat kembali menhidupkan budaya gotong rotong di lingkungan masing-masing. Kemudian, memakan buah-buahan dan sayuran, apalagi di desa banyak dijumpai buah-buahan serta sayur-sayuran yang lebih bergizi,”pintanya. (arm)

Pemkab Telantarkan Nasib Guru Honda dan Bakti

“Gaji Tidak Dibayar, Guru Menjerit”

ACEH UTARA- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara, terkesan telah menelantarkan nasib para guru honor daerah (honda) dan guru bakti munir di 27 kecamatan dalam wilayah kabupaten setempat. Pasalnya, selama empat bulan ini mereka belum menerima gaji honor dari pemerintah.

Fenomena atau budaya ini harus dapat dihilangkan, dengan memperlambat pembayaran gaji para guru sebagai pendidik anak-anak bangsa yang lebih cerdas kedepan, demi pembangunan Provinsi Aceh. Namun, alangkah sangat disayangkan, jika gaji saja belum dibayar oleh pemerintah selama empat bulan ini. Akibatnya, kebanyakan diantara guru tersebut terpaksa mengutang dulu kepada orang lain, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Apabila, tidak berutang maka tidak mempunyai uang karena belum dibayar gaji oleh pemerintah.

Menurut beberapa guru ini, merasa kecewa kepada pemerintah yang dinilai masih kurang memperhatikan nasib kehidupan mereka. Jangankan untuk kesejahteraan, gaji saja yang sudah dialokasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Utara tahun 2009 belum bayar. Mereka juga bertanya-tanya, apakah dengan kasus bobolnya rekening Pemkab di Bank Mandiri Jalembar Jakarta Barat, dapat menghambat lagi proses pembayaran gaji mereka yang sudah empat bulan tidak jelas rimbanya.

Kondisi itu akan berdampak buruk bagi proses belajar mengajar disekolah, dimana dari bulan Januari sampai dengan April lalu, para guru ini belum menikmati hasil jerih payah mereka.“Perlu diketahui, keterlambatan pembayaran gaji kami bukan saja terjadi pada tahun ini. Namun, kondisi serupa sudah setiap tahun anggaran terjadi,”ujar beberapa guru bakti munir dan guru honda, Aceh Utara, kepada Rakyat Aceh, Rabu (20/5), yang enggan namanya dipublikasi.

Dia mengatakan, saat mempertanyakan kejelasan gaji tersebut ke dinas terkait, selalu beralasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) tahun 2009 belum dicairkan. “Jika terus menunggu pencairan APBK itu tanpa bisa mendahului, sehingga kami sebagai guru bakti murni terpaksa harus berutang untuk membeli kebutuhan keluarga,”keluhnya. (arm)

Jalan Belum di Aspal, Warga Blang Poroh Ancam Demo

“Setiap Hari Debu Berterbangan”

CUNDA-Warga Gampong Blang Poroh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, mengancam demo ke kantor Walikota Lhokseumawe, terkait dengan belum pengaspalan terhadap badan jalan Gampong setempat, sepanjang 1,5 kilometer.

Menurut sejumlah warga, sekitar empat bulan lalu jalan tersebut sudah dilakukan pengerasan untuk pengaspalan dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota (APBK) Lhokseumawe, tahun 2007.

Namun, pemerintah setempat, belum juga mengaspal jalan Gampong Blang Poroh yang menghubungkan beberapa Gampong di Kecamatan Muara Dua, dan Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Padahal, jalan itu merupakan jalur transportasi masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian, baik dengan menggunakan sepeda dayung maupun sepeda motor ke pasar.

Tokoh masyarakat Gampong Blang Poroh, Tgk. Hasan, kepada Rakyat Aceh, Minggu (17/2) mengatakan, saat ini kondisi jalan mulai mengeluarkan debu yang berterbangan kerumah-rumah penduduk dan menganggu aktifitas masyarakat pengguna jalan. “Mau tidak mau warga setiap hari harus menghirup debu jalan. Apalagi kini termasuk musim kemarau sehingga sangat mudah debu berterbangan ketika jalan itu dilalui warga,”ucapnya.

Sebut dia, selama empat bulan pengerasan badan jalan tersebut yang menimbulkan debu telah menyebabkan sebagian warga mulai terserang penyakit, seperti batuk dan ispa. “Dengan kondisi demikian, sepertinya Pemerintah Kota(Pemko) Lhokseumawe, kurang peduli terhadap rakyatnya. Bukan memberikan kesejahteraan, malah akibat program pembangunan yang tidak berjalan secara maksimal membuat warga menjadi sensara, karena makan debu tiap hari,”keluh Tgk.Hasan.

Lanjut dia, jika dalam waktu dekat ini Pemko tidak segera mengaspal jalan itu, maka pihaknya mengecam akan melakukan demo ke kantor Walikota untuk mempertanyakan apa tujuan mereka tidak menyelesaikan pembangunan jalan yang sudah ada anggarannya.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Lhokseumawe, TA. Khalid, ketika dihubungi Rakyat Aceh, melalui telepon selulernya, Minggu (17/2), mengatakan, seharusnya Pemerintah Kota lebih fukos terhadap infrastruktur yang sangat dibutuhkan langsung dan kepentingan rakyat.

“Jangan seperti jalan Gampong Blang Poroh, yang hingga saat ini belum juga diaspal sebagaimana mestinya. Dan sampai kapan masyarakat harus makan dan hirup debu setiap hari,”Ketua DPRK. (arm)

Minggu, 17 Mei 2009

Majelis Taklim Capai MoU Tapal Batas Gampong

Majelis Taklim Capai MoU Tapal Batas Gampong
“Gelar Syukuran Tapal Batas Gampong”

LHOKSEUMAWE- Akhirnya, setelah puluhan tahun terjadi sengketa tapal batas antara Gampong Blang Poroh dengan Gampong Lhok Mon Puteh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, dapat diselesaikan secara damai.

Bahkan, Rabu (29/4) pagi kemarin, kedua gampong tersebut menggelar syukuran atau kenduri raya dengan menggunakan ratusan masyarakat gampong setempat. Hal itu dilakukan sebagai bentuk menjaling rasa persatuan dan kesatuan antara gampong tersebut yang sempat retak gara-gara tapal batas gampong yang sempat terjadi keributan.

Namun, tercapainya kesempatan damai kedua gampong ini tidak terlepas dari kegigihan pimpinan Majelis Taklim As-Syafi’yah gampong setempat, dibawah pimpinan Tgk. H. Abubakar Ismail. Dimana, setiap ada kegiatan majelis taklim Tgk. H. Abubakar Ismail selalu memberikan pencerahan kepada masyarakat dari dua gampong tersebut.

“Kita selalu memberikan pencerahan dan bimbingan untuk dapat berdamai menyangkut masalah tapal batas Gampong Blang Poroh- Lhok Mon Puteh. Jadi fungsi Majelis Taklim ini, selain untuk memberikan tentang ilmu agama islam juga dapat memperkuat rasa persaudaraan sesama masyarakat, sehingga akhirnya berhasil kita damaikan kedua gampong ini,”ucap Tgk. H. Abubakar Ismail, yang juga pimpinan Dayah Darul Ulum di gampong setempat.

Sebut dia, sebagai bentuk perdamaian yang sudah tercapai terhadap dua gampong ini sehingga pihaknya membuat syukuran dengan mengundang seluruh masyarakat yang berada di Gampong Blang Poroh dan Gampong Lhok Mon Puteh. Dalam acara itu, juga dihadiri oleh Asisten III Pemko Lhokseumawe, Drs. Arifin Abdullah, Kabag Pemerintahan, Kabag Kesbangpol, Ketua MPU, Anggota DPRK, Muspika Muara Dua, tokoh masyarakat dan undang lainnya.

Sementara itu, syukuran yang digelar tersebut merupakan suatu sejarah yang jarang terjadi, dimana masalah sengketa dua gampong sejak 62 tahun lalu berhasil terselesaikan.

“Jadi penyelesaian sengketa tapal batas gampong tersebut tidak akan terwujud bila tidak adanya keinginan kedua belah pihak untuk mencari jalan terbaik dalam menangani masalah dimaskud,”ucap Walikota Lhokseumawe, Munir Usman, yang diwakili Asisten III Setdako Lhokseumawe, Drs. Arifin Abdullah pada acara syukuran penetapan tapal batas gampong Blang Poroh-Lhok Mon Puteh.

Arifin mengatakan, kesepakatan kedua pihak lahir tidak terlepas dari dukungan semua pihak khususnya masyarakat gampong setempat. Dimana tokoh masyarakat dan alim ulama yang selalu bermusyawarah pada majelis taklim As-Syafi’iyah yang merupakan sebagai wadah bertemunya kedua belah pihak pada kegiatan pengajian.

Asisten III ini juga meminta jika masih ada masyarakat gampong yang bersengketa tentang Tapal Batas agar segera membentuk Majelis Taklim dalam menyelesaikan sengketa tersebut. “Apalagi jika dilihat dari asal usul kedua wilayah adalah bersaudara yang tentunya setiap pertikaian harus ditempuh secara damai,”ucapnya. (arm)
PPS Blang Poroh Tak Pakai Bilik Suara KIP
“Bilik Suara KIP Kecil, Lembaran Surat Suara Besar”

LHOKSEUMAWE- Panitia Pemungutan Suara (PPS) Gampong Blang Poroh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, tidak memakai bilik kotak suara yang diberikan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Lhokseumawe.

Namun, PPS setempat mengambil inisiatif sendiri untuk membuat bilik surat dengan menggunakan spanduk yang dibagikan dalam 7 bilik untuk TPS 1 dan dan 5 bilik suara di TPS 2. Dengan jumlah pemilih di Gampong Blang Poroh dari TPS 1 dan TPS 2 mencapai 605 orang.

Sedangkan alas tempat pemberian suara memakai meja sekolah sehingga memudahkan bagi pemilih untuk membuka surat suara sebelum mencontreng sesuai hati nuraninya. Baik itu surat suara untuk caleg DPR-RI, DPD, DPRD Provinsi maupun surat suara DPRD Kabupaten/Kota.

Ketua PPS Gampong Blang Poroh, Marzuki, kepada Rakyat Aceh, Kamis (9/4), mengatakan, secara umumnya pelaksanaan pemilu 9 April berjalan lancar tanpa adanya kendala yang berarti. Begitu juga bagi warga pemilih mendatangi TPS berlokasi didepan SDN 3 Muara Dua, mulai pukul 08.00 wib sampai dengan pukul 12.00 siang kemarin.

“Jadi penyebab kita tidak menggunakan bilik kotak suara yang diberikan oleh KIP Lhokseumawe karena sangat kecil. Sementara lembaran surat suara tersebut sangat besar, sehingga tidak memungkinkan memakai bilik suara dari KIP. Jika pun kami menggunakan maka akan membuat kesulitan bagi pemilih untuk membuka surat suara,”jelas Marzuki.

Selain itu, sebut Marzuki lagi, sesuai data yang diterima pihaknya terhadap saksi dari partai politik baik partai lokal maupun partai nasional mencapai 9 orang. Masing-masing dari Partai Aceh (PA), PKS, PDI-P, PDA, PAN, PBA, Partai Demokrat, Golkar, dan PPRN. Sementara, jumlah pihak penyelenggaran pemilu di Gampong Blang Poroh, yakni tiga orang PPS, tiga orang sekretariat, 14 orang dari KPPS, lima anggota Linmas, dua personil Polisi dan dua personil TNI. (arm)