Selasa, 10 April 2012

Serangga Tomcat KLB Di Lhokseumawe


“Lukai 6 Warga Alue Awe”

LHOKSEUMAWE- Kasus serangga tomcat di Kota Lhokseumawe, sudah menjadi kasus luar biasa (KLB). Dimana, Dinas Kesehatan setempat, berhasil menemukan enam kasus korban gigitan serangga tomcat di Gampong Alue Awe, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Keenam korban itu, digigit oleh serangga tomcat pada 25 Maret lalu dirumahnya berkonstrusi kayu yang berdekatan dengan  tambak masyarakat di belakang eks Pengadilan Negeri Alue Awe. Namun, pihak Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe, baru mengetahui kasus itu pada Kamis 5 April lalu, dan sudah turun kelapangan bersama Dinas Kelautan Pertanian dan Perikanan Kota Lhokseumawe, untuk melakukan croscek.
Hal itu disampaikan Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe, Dra. Astati, didampingi Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, Nizam Mauyah, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, kemarin.

Kata dia, enam warga dalam satu rumah itu yang digigit oleh serangga tomcat yakni Maria Ulfa (24), Fahri Zahrah (1,5 bulan), Yuni Fitri (26), Arifa (1), Ima Murina (19) dan Raimah (52).  Kondisi enam korban sudah mulai membaik setelah mendapatkan perawatan medis di puskesmas setempat. Awalnya, kondisi tubuh korban saat digigit serangga tomcat yakni merah, bernanah, melepuh, gatal-gatal dan bengkak.
“Upaya yang kita lakukan penyelidikan kelokasi kejadian penderita dan diberikan pengobatan,”ungkapnya.  Selain itu, laporan yang diterima pihaknya di kawasan Bank Mandiri Cabang Lhokseumawe, juga ditemukan dua ekor tomcat. (arm)

Sumber: Harian Rakyat Aceh. 

Butuh Dana Rp 40 M Bangun UNARA di Lhokseumawe




“Mohon Dukungan Semua Pihak”
LHOKSEUMAWE- Untuk membangun Universitas Aceh Nusantara (UNARA) di Lhokseumawe, membutuhkan dana mencapai Rp 40 miliar sebagai tahap  perencanaan awal pembangunan kampus tersebut.
Sementara kampus itu akan aktif pada bulan September mendatang, jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi, mengeluarkan izin mendirikan UNARA di Kota Lhokseumawe, di bulan Agustus 2012. 

Dimana permohonan pendirian UNARA telah diajukan pada 3 Oktober 2011 lalu, kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi
Pun demikian, pihak pengurus Yayasan Pembangunan Universitas Aceh Nusantara (YP-UNARA), terus berupaya melakukan lobi untuk pengurusan izin operasional kampus. Kemungkinan besar jika sudah ada izin, maka untuk sementara waktu akan menggunakan bangunan Pasanteren Mujahiddin Jalan Line Pipa Lhokseumawe, sebagai tempat perkuliahan mahasiswa.
“Tinggal kita teken MoU atau kerjasama dengan Pasantren Mujahiddin untuk menggunakan bangunan mereka,”ungkap Ketua Umum YP-UNARA Lhokseumawe, M, Nasir, ST,MM, didampingi Sekum, Ir. Baktiar Muhammad dan Bendaraha Umum, Baktiar, saat konfrensi pers di Sekretaris YP UNARA Lhokseumawe, Selasa (10/4).

Kata M. Nasir, Yayasan Pembangunan Universitas Aceh Nusantara sudah dirintis sekitar tiga tahun lalu dan baru jalan operasional dalam dua tahun terakhir ini, dengan berbagai dukungan dari semua elemen masyarakat. Menurutnya, kebutuhan dana sebesar Rp 40 miliar itu sebagai perencanaan tahap awal untuk pembangunan kampus, seperti biaya pemberkasan administrasi, pembebasan lahan, ruang belajar, laboratorium dan kebutuhan lainnya.  

“Kami merencanakan akan membuka 22 prodi atau jurusan untuk mahasiswa yang kuliah di Kampus UNARA Lhokseumawe, nantinya dengan lokasi pembangunan kampus di kawasan Jalan Line Pipa Lhokseumawe,”cetusnya.

Selain itu, lanjut dia, terkait adanya pernyataan dimedia massa selama ini bahwa UNARA merupakan universitas fiktif itu salah besar dan keliru. Dimana, ploting anggaran dana yang diusulkan dalam APBK Lhokseumawe, tahun 2012 sebesar Rp 201 juta benar adanya. Namun, dana itu untuk Universitas Aceh Nusantara, melaikan untuk kegiatan operasional Yayasan Pembangunan Universitas Aceh Nusantara Lhokseumawe.

“Dana yang diusulkan itu jika segera dicairkan oleh Pemko akan kita gunakan untuk operasional YP-UNARA Lhokseumawe. Intinya, kami mendirikan universitas untuk mencerdaskan anak bangsa yang berilmu pengetahuan tinggi,”terangnya.  Untuk itu, dia juga meminta dukungan semua pihak guna menyumbang baik tenaga, pikiran maupun modal dalam membangun sebuah lembaga pendidikan tinggi di Lhokseumawe. (arm)
Sumber: Harian Rakyat Aceh.

Senin, 09 April 2012

Diduga Mesum, Sepasang Kekasih Ditangkap Warga


LHOKSEUMAWE- Warga Paya Lhok, Gampong Paya Peuntuet dan Gampong Blang Poroh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, berhasil menangkap sepasang kekasih yang sedang berdua-duaan di tempat gelap, Minggu (8/4) sekira pukul 23.30 WIB.

Lokasi ditangkap sepasang kekasih yang diduga berbuat mesum dikawasan Komplek Pembangunan Perumahan Poroh Permai Gampong Blang Poroh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Mereka adalah berinisial Fah (32) sudah beristri warga Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti dan Deb (30) pembantu rumah tangga di rumah pak cecep Gampong Batuphat Barat, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe.

Informasi yang diterima Metro Aceh, sepasang kekasih itu datang ke Komplek Pembangunan Perumahan Poroh Permai Gampong Blang Poroh, dengan menggunakan sepeda motor. Setiba dilokasi mereka hendak masuk kedalam rumah yang belum siap, sehingga warga Paya Lhok yang sempat melihat mereka berdua ditempat gelap pada pukul 23.30 WIB, langsung menangkap.

Kemudian, warga Paya Lhok menginformasikan kepada warga Blang Poroh. Saat mereka ditangkap Fah sempat berusaha kabur, namun massa yang sudah mengepung lokasi berhasil menangkap Fah dan termasuk kekasihnya Deb. 

“Setelah ditangkap keduanya dibawah ke Kantor Geuchik Blang Poroh untuk diproses sesuai dengan hukum adat. Kemudian kami juga menghubungi WH Lhokseumawe, untuk dititipkan di Kantor WH,”jelas Ketua Pemuda Blang Poroh,  Musliadi Harun, kepada Metro Aceh, kemarin.

Kata dia, sekira pukul 02.30 dini hari, sepasang kekasih itu dijemput WH dan kini sudah menekam di Kantor WH Lhokseumawe, untuk menjalani proses hukum. “Kami dari warga Blang Poroh, akan mennyelesaikan kasus itu secara hukum adat, karena berusaha membuat mesum di gampong kami,”tegasnya, seraya menambahkan, barang bukti yang disita atau diambil dilokasi kejadian berupa kasur.

Sementara itu, menurut pengakuan Fah saat dijumpai Metro Aceh, mengatakan, dirinya tidak mengenal Deb tersebut. Dimana sebelum kejadian Deb disuruh jemput di kawasan Cunda pada pukul 23.00 WIb oleh temannya bernama Andi yang juga warga Hagu Selatan.

“Jadi setiba dilokasi itu ternyata Andi belum datang, tapi warga yang sempat melihat kami disitu langsung menangkap dan memukul kami,”jelasnya, yang didampingi istrinya di Kantor WH Lhokseumawe. Sebut dia,  dirinya tidak berbuat apa-apa dengan Deb karena cuma disuruh antar saja ke situ oleh Andi.  

Hal senada juga disampaikan Deb. Kata Deb, dia juga tidak mengenal dengan Fah dan tidak berbuat apa-apa saat tiba dilokasi tersebut. Yakni di Komplek Pembangunan Perumahan Poroh Permain, Gampong Blang Poroh, Kecamatan Muara Dua. Kota Lhokseumawe. (arm)   

Sumber: Rakyat Aceh/Metro Aceh

Partai Aceh Unggul Di Aceh Utara


Berikut adalah hasil perolehan suara sementara secara lengkap yang dikeluarkan Posko Quick Count Desk Pemilukada di Sekretariat Pemkab Aceh Utara : Ketua Posko Quick Count Desk Pemilukada Sekretariat Pemkab Aceh Utara, T Mustafa, sekira pukul 19.30 wib, Senin Malam (9/4). 

Kandidat Calon Gubernur/Wakil Gubernur Aceh
1.       Dr. H Zaini Abdullah/Muzakir Manaf dengan perolehan 77,33 persen suara
2.       Drh Irwandi Yusuf/Dr Ir Muhyan Yunan M.Sc dengan perolehan 14,19 persen suara
3.       H Muhammad Nazar/Ir Nova Iriansyah MT dengan perolehan 3,69 persen suara
4.       Tgk H Ahmad Tajudin AB/Ir H Teuku Suriansyah M.Si dengan perolehan 2,78 persen suara
5.       Prof Dr H Darni Daud MA/Dr Ahmad Fauzi M.Ag dengan perolehan 2,02 persen suara

Kandidat Calon Bupati/Wakil Bupati Aceh Utara
1.       H Muhammad Thaib/Drs Muhammad Jamil M.Kes dengan perolehan 65,39 persen suara
2.       H Sulaiman Ibrahim/Drs H T Syarifuddin dengan perolehan 9,17 persen suara
3.       Drs H Marzuki Abdullah/Drh Nuaraini Maida dengan perolehan 5,71 persen suara
4.     Tgk Fajri M Kasim M.SSc/Tgk H Muchtar A Al Khutby S.Hi dengan perolehan 5,38 persen suara
5.       Dr Husnan Harun/Ir H T Muttaqin MM dengan perolehan 4,94 persen suara
6.       Tgk Ilyas A Hamid/Tgk ABD Wahab Mahmudi S.Ag dengan perolehan 2,82 persen suara
7.       Misbahul Munir ST/Mansur SE dengan perolehan 2,48 persen suara
8.       Prof H A Hadi Arifin M.Si/Ridwan Lidan SE dengan perolehan 2,16 persen suara
9.       Drs H Umar HN/Ir Bakhtiar MT dengan perolehan 0,98 persen suara
10.   Martunis Hamzah ST/Mustafa Arba dengan perolehan 0,96 persen suara

ZIKIR Unggul Di Lapas Lhokseumawe
Sumber: atjehpost.com

LHOKSEUMAWE- Calon gubernur-wakil gubernur nomor urut 5, Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf  (ZIKIR) menang telak di TPS Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Lhokseumawe. Kandidat dari Partai Aceh itu meraih 67 suara, sedangkan Irwandi-Muhyan kebagian 1 suara.

“Hasil penghitungan suara untuk Pilkada Gubernur/Wagub, colon nomor urut 5 sebanyak 67 suara, calon nomor urut 2 hanya 1 suara dan 3 suara rusak. Total yang memberikan hak suara di Lapas ini 71 orang,” kata Ketua KPPS TPS Lapas Lhokseumawe Iskandar Mahmud saat dihubungi tadi pukul 19.45, Senin, 9 April 2012.

Ketua KIP Lhokseumawe Ridwan Hadi mengatakan penghitungan hasil pemungutan suara di TPS Lapas itu baru bisa dilakukan usai waktu Ashar. “Menjelang Ashar, penghuni Lapas menyerahkan kotak suara kepada kita setelah mereka kuasai beberapa jam,” katanya.

“Setelah diserahkan, kita periksa bersama Panwas, ternyata tidak ada yang cacat, kotak suara masih dalam kondisi terkunci, sehingga langsung dilakukan penghitungan suara,” kata Ridwan Hadi.

Sumber lainnya menyebutkan, sejumlah petingga Partai Aceh sempat bernegosiasi dengan penghuni Lapas yang menyandera kotak suara sejak pukul 12.30 hingga pukul 15.30. Di antaranya, Ketua DPRK Saifuddin Yunus, Ketua BRA Hamdani (keduanya politisi PA) dan Juru Bicara PA wilayah Pase Nasrullah Dahlawi. Tujuan negosiasi itu agar napi menyerahkan kotak suara ke KIP atau KPPS.

“Tapi negosiasi baru berhasil setelah datang jajaran Muspida, termasuk Kapolres, Dandim dan yang lainnya. Polisi juga sudah menurunkan pasukan khusus. Akhirnya, penghuni Lapas menyerahkan kotak suara yang mereka sandera,” kata sejumlah sumber.

Para napi dan tahanan itu menyandera kotak suara sebagai bentuk protes terhadap penyelenggara Pilkada. Sebab lebih 300 warga binaan di Lapas itu tidak diberikan hak pilih.[]