Sabtu, 30 Mei 2009

Drama Pencarian Jufrizal, Korban Penculikan

Ahad, 31 Mei 2009 10:57
Polisi Ditembaki Penculik
Dua Tersangka Diringkus, Sandera Raib

IDI RAYEUK-Perburuan kawanan pelaku penculikan Jufrizal benar-benar menegangkan. Bak film action, petugas kepolisian ditembaki oleh kawanan bandit yang sudah terkepung. Meski tersangka berhasil dilumpuhkan, namun sandera tetap tak ditemukan. Keinginan keluarga untuk bertemu Jufrizal (18) secepatnya harus dibatalkan.
Pasalnya, siswa SMU yang bermukim di Lhokseumawe dan telah beberapa hari ditangan penculik tetap urung ditemukan. Padahal, dua tersangka terkait kasus tersebut sudah berhasil diringkus.Aksi baku tembak antara bandit ini tak terelak saat petugas melakukan penyergapan di sudut Kota Idi Aceh timur. Aparat dari jajaran Mapolres Aceh Timur dibantu Tim Khusus (timsus) Mapolda Aceh, Sabtu (30/5) siang sekira pukul 13.00 berusaha untuk menghadang komplotan bersenpi.

Kedua tersangka saat ini diamankan ke komando adalah Mar alias Mayu bin Mar (20) warga Gampong Keramat, Kota Lhokseumawe dan Saf (30) warga Desa Pusong Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Sedangkan teman mereka yang lain berhasil kabur dalam pengepungan tersebut. Pihak kepolisian pun hingga kini meminta bantuan TNI untuk mengejar dan melacak keberadaan kawanan penculik lainnya.

Akibat aksi tembak menembak, suasana Kota Idi sempat tegang. Masyarakat takut keluar rumah, lantaran terdengar letusan senjata sambung-menyambung. Apalagi polisi di keramaian kota sempat mengeluarkan tembakan peringatan ke udara. Sedangkan kawanan bandit tak urung menyambutnya dengan peluru dari senpi masing-msing. Kapolres Aceh Timur, AKBP Drs. Ridwan Usman, kepada Metro Aceh mengatakan, sebelum baku tembak terjadi, petugas mencurigai satu unit mobil Inova warna Silver BK 1239 VJ milik bandit melaju dari arah Kota Peureulak. Persis di depan SPBU Peudawa beriringan dengan mobil Innova milik anggota Intel Mapolres Aceh Timur, dengan arah yang sama ke barat.

“Karena mencurigakan aparat polisi berhenti. Saat mau didekati, pengemudi mobil Innova langsung tancap gas melarikan diri. Merasa buruan mau kabur, polisi segera mengejar dan tembakan pun mulai diarahkan ke sasaran. Tanpa diduga, salah satu komplotan mengeluarkan senjata melalui kaca mobil.

Mereka kemudian menyerang petugas yang berada dibelakangnya," ujar Ridwan.Melihat kondisi jalan ramai dan padat kendaraan, membuat aparat si hanya membalas dengan tembakan peringatan ke atas. Ternyata hal itu tak membuat nyali penjahat jadi ciut. Mereka terus memberondong polisi. Aksi kejar-kejaran baru berakhir setelah lima kilometer dari lokasi pertama. Kawanan bandit diperkirakan ingin menuju arah pusat Kota Idi, berbelok ke kanan. Karena terlalu tajam, ditambah kecepatan mobil yang tinggi, akhirnya mobil inova menabrak cincin sampah dan pohon asam.

“Dari dalam mobil itu keluar empat orang. Dua diantaranya memegang senpi laras pendek dan panjang. Mereka langsung lari terpencar, namun sambil lari polisi masih melakukan tembakan ke udara, namun pelaku membalas tembakan ke arah polisi,” jelas Kapolres.Tak ingin kehilangan buruan, polisi segera meminta bantuan guna mengepung lokasi. Beberapa saat setelahnya, dari hasil penyisiran ditemukan dua tersangka. Namun temannya yang lain kabur dan tak diketahui. Kuat dugaan mereka masih berada di kawasan Kota Idi, sehingga pengamanan terus diperketat. Menurut keterangan tersangka, mereka mengakui penculikan itu. Namun sandera tidak bersama saat kejadian dan berada di tangan kelompok yang lain.
Polres Lhokseumawe Lakukan Penyisiran
Sementara itu dari Lhokseumawe, sejumlah personil polisi jajaran Mapolresta Lhokseumawe yang diback up personil Polda Aceh melakukan penyisiran terhadap pelaku penculikan Jufrizal (18) siswa asal Kecamatan Simpang Kramat. Pada penyisiran tersebut kapolres dan wakapolres turun langsung pada tiga lokasi terpisah.

Pada penyisiran tersebut, sejumlah pengendara diperiksa oleh petugas yang melewati lokasi penyisiran. Sedangkan lokasi penyisiran di lakukan di dua tempat terpisah, yaitu Kecamatan Samudera, Muara Satu dan Banda Sakti. Usaha penyisiran dan penyergapan ini dilakukan mulai pukul 11.00 wib. Sebab diinformasikan para pelaku penculikan akan melewati jalan negara.

Pantauan wartawan koran ini, petugas keamanan yang sedang melakukan razia memberhentikan dengan hormat sejumlah pengendara. Lalu petugas memeriksa identitas pengendara dan melihat wajah pengendara. Mengingat saat ini petugas telah mengetahui identitas dari sejumlah pelaku. Bahkan ada dua sepeda motor yang diamankan karena tidak memiliki surat lengkap serta tidak mempunyai plat nomor polisi.

Hingga berita ini diturunkan polisi masih terus melakukan penyisiran dengan lokasi berpindah pindah. Bahkan penyisiran kini telah dilakukan hingga ke daerah Peurelak Kabupaten Aceh Timur. “Saat ini kita masih terus melakukan penyisiran hingga sampai peurelak,”ujar kapolres Lhokseumawe AKBP Zulkifli kepada wartawan koran ini, Sabtu (30/5).

Seperti diberitakan sebelumnya, polisi telah mengantongi identitas pelaku dan juga lokasi para pelaku penculikan. Sementara itu memasuki hari keempat polisi masih terus melakukan pengejaran dan korban belum juga dilepas. Tetapi pelaku kini menurunkan tebusan mereka dari Rp.3 Miliar menjadi Rp.500 juta. Sedangkan Jufrizal (18) siswa asal Kecamatan Simpang Kramat diculik pada Selasa malam (26/5) sekira pukul 23.00 wib oleh pelaku bersenjata yang mengendarai kijang innova warna silver. (ris/agt/arm)

Kamis, 28 Mei 2009

DPT Pilpres Aceh Utara Berkurang
“DPT Telah Ditetapkan”

ACEH UTARA- Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Utara, telah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu Presiden (Pilpres) pada 8 Juli mendatang. Dengan jumlah warga yang termasuk dalam DPT tersebut mencapai 351.743 jiwa dari 27 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara.

Sementara penetapan DPT itu sendiri berlangsung di Aula KIP setempat, Kamis (28/5) yang turut dihadiri oleh Ketua dan anggota KIP serta Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan lainya. Berdasarkan hasil DPT Pilpres kemarin, terjadi pengurangan jumlah pemilih dan TPS dari Pemilu Legislatif 9 April lalu, dengan Pemilu Presiden mendatang.

“Pengurangan jumlah pemilih mencapai 10.432 orang, jika dibandingkan dengan pemilih pada Pemilu Legislatif lalu, yakni 362.175 orang. Hal itu disebabkan banyak ditemukan pemilih ganda dan bisa jadi waktu pendataan terdahulu datanya tidak akurat,”ucap Ketua Pokja Pantarlih (Pendaftaran Pemilih) Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Utara, Lailan Fajri, kepada Blang Poroh Berita, kemarin.

Kata dia, penetapan jumlah pemilih tersebut, juga berdasarkan hasil verifikasi ulang yang dilakukan pihaknya selama ini bersama 27 PPK dan 852 PPS di di Kabupaten Aceh Utara. Kemudian DPT Pilpres itu langsung di kirimkan ke KIP Aceh untuk dapat ditetapkan DPT tingkat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Selain itu, sebut Lailan, jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) di 27 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara, mencapai 993 TPS, dengan jumlah DPT 351.743 jiwa. Sedangkan,jumlah pemilih pada Pemilu Legislatif lalu, mencapai 362.157 jiwa dan 1.176 TPS.

“Jadi untuk Pemilu Presiden nantinya satu TPS maksimal 800 pemilih. Dan sangat berbeda dengan Pemilu Legislatif lalu, untuk satu TPS hanya 500 pemilih. Ini semua berdasarkan keputusan dari KPU,”imbuhnya. (arm)

Paud Amanah Cerdaskan Anak Bangsa

LHOKSEUMAWE- Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Amanah, hadir di Kota Lhokseumawe, dalam rangka untuk mendidik anak usia dini menjadi anak cerdas, sehat, mandiri dan berakhlak mulia.

Paud Amanah tersebut berada di Jalan Samudera, No 1 di Gampong Lancang Garam, Kecamatan Banda Sakti, yang resmi dibuka dan dipeusijuek Kamis (28/5) pagi kemarin. Lembaga ini juga bergerak dibawah naungan Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kota Lhokseumawe.

Pembina Himpaudi dan Pengelola Lembaga Paud Amanah, M. Yacob, SE,AK, kepada Blang Poroh Berita, disela-sela acara peresmian dan peusijuek, mengatakan, dalam pelaksanaan pembelajarannya Paud Amanah dibimbing oleh tenaga pendidik dan pengasuh yang terampil serta berpengalaman.

“Jadi kami disini akan mengajarkan anak-anak usia dini dengan menggunakan metode pembelajaran centra dan lingkaran (BCCT/ ato beyuond centra cirkle time). Untuk tahap ini kami juga membuka pendaftarkan bagi 60 anak usia dini,”ucap M. Yacob.

Sebut dia, dengan keberadaan Paud Amanah ini di Kota Lhokseumawe, paling tidak dapat memberikan motivasi kepada lembaga-lembaga Paud lainnya. Dimana sesuai yang telah di amanatkan oleh Pemerintah melalui Dirjen bahwa pendidikan di mulai sejak usia dini yang merupakan usia emas bagi tumbuh dan berkembangnya seorang anak.

Lanjut M. Yacob, melalui Himpaudi ini tenaga-tenaga pendidik akan dibina untuk menjadi tenaga pendidik yang profesional, dengan fasilitas yang tersedia Paud Amanah ini mampu memberikan pelayanan kepada 60 orang peserta didik. “Lembagai ini kita jadiakan sebagai Taman Penitipan Anak (TPA) kelompok bermain dan taman kanak-kanak,”ujarnya. (arm)

Rabu, 27 Mei 2009

Pelajar Simpang Kramat Diculik Pria Bersenjata

* Pelaku Minta Tebusan 3 M Tempo 2 Hari*

SIMPANG KRAMAT- Kasus penculikan dengan menggunakan senjata api kembali terjadi di Kabupaten Aceh Utara. Kali ini seorang pelajar, Jufrizal (18) warga Keude Simpang Empat Kecamatan Kuta Makmur diculik OTK, Selasa malam (26/5) sekira pukul 23.00 wib. Hingga saat ini personil polres Lhokseumawe yang diback up personil Polda NAD sedang mencari pelaku.

Informasi yang diterima Metro Aceh, pelaku penculikan dikabarkan mengendarai mobil kijang innova warna silver. Dari saksi mata diketahui bahwa pelaku membawa senjata api laras panjang dan juga laras pendek. Saat itu korban sedang duduk di sebuah warung di desa tersebut yang menyediakan permainan Play Station.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Zulkifli membenarkan adanya laporan penculikan yang terjadi di Kecamatan Simpang Kramat Selasa malam. Pihaknya sudah meminta keterangan keluarga korban dan sejumlah saksi. Sementara itu sejumlah personil Polres Lhokseumawe yang dibantu personil Polda Nad sedang melakukan penyelidikan.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan pihak Polres Lhokseumawe. Kini sejumlah personil sudah kita turunkan untuk mengusut dan mengejar pelaku. Hingga saat ini kita belum dapat memastikan apa motif penculikan dan siapa pelakunya,”terang kapolres. Terkait kejadian ini, kapolres menghimbau agar masyarakat yang mau membantu pihaknya. “Kita menghimbau kepada sejumlah masyarakat agar dapat melaporkan kepada kami. Jika disekitar mereka melihat dan mengetahui keberadaan pelaku maupun korban,”harap kapolres.

Menurut kakek korban, Ibrahim Yahya dirinya mengatahui cucunya diculik dari warga di desanya. Pada saat itu cucunya pergi menuju sebuah warung tempat biasanya bermain play station dengan sepeda motor. Baru saja dirinya duduk bersama teman-temannya, tiba-tiba datang sebuah mobil dan berhenti persis di depan warung.

“Tidak lama berhenti, dua orang berperawakan sedang turun dari mobil. Keduanya menenteng senjata, satu pakai senjata laras panjang dan satu lagi seperti pistol. Sambil mengokang senjata keduanya langsung membawa paksa cucu saya,”terang Ibrahim kepada wartawan koran ini, Rabu (27/5). Mendapat laporan ini, dirinya langsung menghubungi ayah korban yang tinggal di Lhokseumawe. “Saat mendapat kabar tersebut saya lalu memberitahukan ayahnya yang tinggal di Lhokseumawe. Sebab selama ini Jufrizal tinggal bersama saya sejak ayahnya kerja ke Jepang,”terang Ibrahim.

Sementara itu, orang tua korban, Ahmad Ilyas (40) yang mengetahui bahwa anaknya telah diculik langsung menuju kampungnya. Setelah itu dirinya langsung membuat laporan kepada pihak Polres Lhokseumawe. Namun sejauh ini dirinya belum mengetahui kondisi dan keberadaan anaknya.“Setelah kejadian tadi malam, saya lalu menelpon HP Jufrizal. Tetapi yang mengangkatnya malah pelaku dan mengatakan “urusannya besok dikantor jam 10”. Setelah itu HP milik anak saya tidak aktif lagi hingga hati ini,”terang Ahmad kepada wartawan yang mengaku belum setahun kembali ke Lhokseumawe.

Lanjutnya, selama ini dirinya bekerja pada sebuiah perusahaan spare part mobil di Jepang. Dirinya baru kembali ke Aceh sejak bulan puasa lalu atau belum genap satu tahun. Sementara saat ini dirinya sedang membangun sebuah toko di kampungnya di Keude Simpang Kramat.

“Intinya sampai saat ini kami belum tahu apa motif penculikan tersebut. Menurut saya selama ini tidak pernah bermasalah dengan seseorang. Begitu juga anak saya juga tidak pernah menceritakan kalau dia punya masalah dengan pihak lain,”terangnya. Ditanya apakah ada ancaman dari pelaku atau minta tebusan? Ayah korban membenarkannya, sebab sekira pukul 10.00 wib masuk telpon mengaku dari penculik. Mereka minta sejumlah uang tebusan dan juga voucher pulsa kepada ayah korban.

“Pelaku minta uang tebusan berjumlah 3 M dalam tempo dua hari. Hingga saat ini saya belum memberikan uang tebusan itu, apalagi jumlahnya sangat besar,”terangnya. Sementara itu, empat orang saksi yang melihat langsung kejadian juga dipanggil pihak polres untuk dimintai keterangan. Kepada wartawan koran ini, empat saksi mata membenarkan kalau mereka melihat korban dibawa oleh orang bersenjata yang menaiki kijang innova.

“Pada malam itu Jufrizal baru saja sampai di warung tempat play station. Namun belum lagi dirinya main dan minum yang dipesannya. Tiba-tiba datang sebuah mobil innova berwarna silver berhenti di depan warung. Lalu turun dua orang dengan menenteng senjata laras panjang memakai baju kaos coklat dan satu lagi memkai pistol,”terang saksi yang namanya tidak mau ditulis.

Setelah itu, sambung saksi lainnya, pelaku masuk warung dan mengatakan “dua orang keluar”. Malah pelaku yang memegang senjata laras panjang mengokang senjatanya dan langsung membawa korban. “Pada saat itu kami mendengar korban mengatakan ada apa ini bang. Tetapi pelaku menjawab nanti saja tahu dikantor. Saat itu kami tidak berani berbuat apa-apa saat melihat korban dibawa oleh pelaku. Setelah itulah kami melaporkan kejadian ini kepada kakeknya Jufrizal,”terang saksi mata. (agt)

Warga Miskin Dambakan Kebutuhan Air Bersih

ACEH UTARA- Diperkirakan ribuan warga miskin yang berdomisili di kecamatan pedalaman dan pesisir Kabupaten Aceh Utara, sangat membutuhkan sarana air bersih yang layak dikonsumsi. Pasalnya, selama ini banyak warga miskin tersebut ada yang mengkonsumsi air bersumber dari sungai, payau dan lainnya.

“Berdasarkan pantau kita sampai saat ini mereka menggunakan air dari sumur galian dan pengeboran galian serta dengan terjadinya pengeboran berakibat pada akan kesediaan air tanah berkurang,”ucap Kepala Kantor Penghubung Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser Kabupaten Aceh Utara, Muntazar, kepada Rakyat Aceh, Jum’at (27/3).

Dia mengatakan, sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara bersama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mon Pase setempat untuk dapat memikirkan dan merasa peduli terhadap kebutuhan air bersih bagi masyarakat miskin.

“Jadi solusi yang harus ditempuh oleh pimpinan daerah dan PDAM Tirta Mon Pase, dapat segera membuat perencanaan dan melakukan pekerjaan secara menyeluruh serta jangan pilih kasih dalam setiap pembangunan. Karena air bersih itu merupakan kebutuhan mendasar terhadap masyarakat baik miskin maupun kaya,”ujarnya.

Selain itu, sebut Muntazar, jika ada setiap kebijakan Pemerintah Kabupaten tidak menyentuh terhadap masyarakat miskin maka dirinya merasa prihatin karena kalau bukan pemerintah yang memberikan kemudahan bagi mereka menyangkut air bersih, jadi siapa lagi orangnya.(arm)

Usai Belajar di LPDS, Reporter RRI Dipecat

ARF News
Sabtu, 27 Januari 2007
Penulis : Masriadi Sambo

Lhokseumawe, acehmagazine.com- Usai mengikuti pelatihan jurnalistik di Jakarta pada awal Januari 2007, Armiadi, (25) reporter RRI Cabang Lhokseumawe dipecat. Dia mengikuti Pelatihan Jurnalistik di Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), Jakarta yang didanai oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias.

Surat PHK diterimanya dari seorang staf RRI saat dia ke gedung di Jalan Petuah Ibrahim, Tumpok Tengoh Lhokseumawe itu. Pasalnya Armiadi, mengikuti diklat LPDS bukan atas nama RRI, namun menggunakan nama media lain. Surat itu 15 Januari 2007 dengan nomor 16.A/CAMA-LSW/SEK/2007. ”Kita tidak memberi izin untuk Armiadi mengikuti pelatihan itu. Karena, selama mengikuti pelatihan dia tidak melaksanakan tugas kedinasan,” ujar Manajer Seksi Penyiaran RRI Agung Prasetyawan, Jumât (26/1) kepada acehmagazine.com.
Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Cabang RRI Lhokseumawe Mirza.”Masak dia Armiadi minta izin malam hendak berangkat ke Jakarta. Inikan tidak etis,” ujarnya pada acehmagazine.com ini, Jumât (26/1). Armiadi menyebutkan dirinya telah meminta izin berkali-kali pada Manajer lembaga penyiaran publik itu. “Saya heran kok malah dipecat. Padahal saya udah berkali-kali minta izin pada manajer Bang Agung,” ucapnya yang bekerja di RRI sejak 2002.
Pria yang masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh ini menyatakan manajemen RRI tidak pernah memberi izin pada reporter untuk mengikuti pelatihan. Selama ini, dirinya mengikuti pelatihan jurnalistik dari lembaga-lembaga lain, tanpa diketahui oleh manajemen RRI. Mengenai bekerja untuk media lain, Armia menyebutkan honor di RRI Rp 150.000 per bulan.
Sementara itu, Mirza menyebutkan pihaknya telah melakukan penandatanganan surat perjanjian kerja dengan Armiadi dengan uang lelah Rp. 150.000 per bulan. Mengenai dia bekerja di media lain, Mirza beralasan tidak efektif. Surat perjanjian kerja yang bertanggal 30 September 2006 dengan nomor 181/CAMA-LSW/SEK/2006 disebutkan pihak RRI tidak memberikan surat peringatan pertama dan kedua pada tenaga pembantu siaran karena telah disosialisasikan, pihak RRI langsung memberikan surat pemutusan hubungan kerja.

Lebih jauh disebutkan dalam surat tersebut, apabila karyawan tidak masuk kerja selama tujuh hari dalam seminggu, maka manajemen memotong gaji Rp 5000. Karyawan tidak menuntut perumahan dan sarana transportasi serta karyawan honor tidak menuntut manajamen untuk diangkat menjadi PNS di lembaga penyiaran itu. “Namun, mengenai uang pemotongan Rp 5.000 itu tidak pernah kita lakukan,” papar Mirza.
AJI Advokasi
Ketua AJI Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lhoseumawe Ayi Jufridar mengatakan seharusnya RRI merasa diuntungkan karena wartawannya mendapat pelatihan jurnalistik di LPDS atau lembaga lainnya. “Itu untuk meningkatkan SDM Wartawan, kok malah dipecat,” ujarnya. Lebih jauh dia menyebutkan pihaknya telah mengirimkan surat untuk Serikat Pekerja AJI Indonesia dan di tembuskan ke LPDS dan Dewan Pers. Ditambahkan, posisi kontrak kerja itu melemahkan posisi wartawan. Masak uang lelah hanya Rp. 150 ribu per bulan tidak manusiawi dan jika wartawan ada kesalahan tanpa diberikan surat peringatan namun langsung dipecat,”ujarnya.

Mampukah APBK 2009 Akan Terealisasi 80 Persen

ACEH UTARA- Beberapa kalangan masih meragukan target realisasi APBK Aceh Utara tahun 2009 bisa mencapai 80 persen dari jumlah anggaran senilai Rp 1,4 triliun. Pasalnya, hingga bulan Mei ini belum ada satu pun proyek pembangunan yang sedang dikerjakan dilapangan.

Namun, seperti diberitakan sebelumnya, Sekdakab Aceh Utara, Ir. Syahbuddin Usman, M.Si, mengatakan, saat ini ada beberapa dinas sedang melakukan pengumuman proses tender proyek pembangunan.

“Paling tidak jika tender sudah selesai maka pada bulan Juni mendatang, proyek pembangunan dapat dilaksanakan dilapangan,”ucap Sekdakab, seraya menambahkan, bagi dinas-dinas yang belum menenderkan proyek dapat langsung melakukan sebagaimana mestinya. Dengan harapan, agar nantinya pembangunan di Aceh Utara dapat mencapai target, sehingga tidak terjadi lagi Silpa pada setiap akhir anggaran.

Lain halnya yang disampaikan Direktur Eksekutif LSM Reuncong Aceh, Zainal Abidin Badar, SH. M.Hum, kepada Rakyat Aceh, kemarin, kalau kita lihat dari permasalahan yang sedang terjadi di tubuh Pemkab saat ini, hal itu mustahil bisa tercapai realisasi proyek pembangunan 80 persen. Apalagi, pasca bobolnya rekening milik Pemkab di Bank Mandiri Jalembar Jakarta Barat, senilai Rp 20 miliar.

Sebut Zainal, kondisi yang terjadi sekarang adalah untuk gaji guru honorer dan gaji perangkat desa dan tuha peut, juga belum dibayar oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. “Coba bayangkan hampir lima bulan para guru honorer, guru bakti murni dan lainnya belum menerima hasil jerih payahnya berupa gaji yang diterima oleh mereka,”ucap Jimbron sapaan akrabnya.

Kata dia, bagaimana pemerintah mau melakukan pengumuman tender proyek, untuk gaji tenaga pendidik dan perangkat desa saja belum tahu kapan akan dicairkan. Sementara guru honor dan bakti murni di Kota Lhokseumawe, sudah menerima gaji mereka walaupun yang diberikan baru tiga bulan dari Januari sampai dengan Maret lalu.

Namun, kenapa di Kabupaten Aceh Utara, masih menahan realiasi gaji para tenaga pendidik tersebut. apakah karena APBK 2009 sedang bermasalah pasca bobolnya rekening Pemkab di Bank Mandiri Jalembar, Jakarta Barat. “Jadi sangat tidak mungkin proyek pembangunan 2009 di Aceh Utara, akan terealisasi hingga mencapai 80 persen,”imbuhnya. (arm)