[ Selasa, 26 Mei 2009 ]
Di Tanah Hitam Abepura
JAYAPURA - Belum terungkap pelaku yang menembaki rumah dinas Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe SIp Sabtu lalu (23/5), insiden serupa terjadi tak jauh dari Kota Jayapura. Tepatnya di atas bukit RT 3 Tanah Hitam Abepura. Kemarin (25/5) terjadi kontak senjata antara pasukan Brimob dan warga sipil bersenjata.
Tidak ada konban jiwa dari baku tembak ini. Namun, masyarakat sekitar kini merasa khawatir kalau keluar rumah. Khususnya untuk pergi ke kebun tempat terjadinya baku tembak. Semula Minggu lalu (24/5) sekitar pukul 15.30 WIT seorang warga RT 3 Tanah Hitam bernama Bahar diserang beberapa orang dengan panah ketika berada di kebun. Para penyerang itu datang tiba-tiba dengan wajah dicoreng moreng.
Mereka berusaha melukai Bahar dengan melepaskan beberapa anak panah. Beruntung anak panah itu tidak mengenai Bahar. Korban berhasil melarikan diri menuruni bukit. Para pelaku yang tidak berhasil melukai Bahar akhirnya melampiaskan kekesalan dengan membakar sebuah pondok milik penduduk Tanah Hitam yang jaraknya cukup jauh dari permukiman penduduk.
Dari informasi tersebut, pukul 11.00 WIT kemarin jajaran Polsekta Abepura yang dipimpin Kapolsekta AKP Dominggus Rumaropen SSos bersama tim Opsnal dan di-backup tujuh anggota Brimob menggunakan persenjataan lengkap mendatangi lokasi.Kapolsek bersama rombongan mengumpulkan data awal mengenai kondisi medan yang berupa bukit tersebut, sebelum melanjutkan perjalanan.
Bersama beberapa warga sebagai penunjuk jalan, rombongan berangkat menuju bukit. Setelah 15 menit, rombongan sampai di bukit pertama, tak jauh dari lokasi penyerangan yang dilakukan sekelompok orang. Setelah menunggu setengah jam sambil mempelajari dan mengamati lokasi, tim Brimob menangkap sesuatu yang mencurigakan dengan jarak sekitar 200 meter di atas ketinggian. Salah seorang anggota Brimob memastikan bahwa yang dilihat adalah warga sipil bersenjata api jenis SS1 sambil mengarahkan senjata menuju rombongan. Setelah diamati dengan kamera wartawan, barulah dipastikan bahwa yang bersangkutan memang hendak menembak.
Tanpa menunggu lama, anggota tersebut melepaskan tembakan ke arah orang bersenjata itu. Tampak dari layar kamera, warga tadi sempat terpental karena kaget mendengar bunyi tembakan. Tembakan itu kemudian dibalas beberapa kali, tapi tidak mengenai sasaran. Anggota tim lain yang menyusul dari arah bawah bukit langsung merespons dengan ikut menembaki pelaku.
Setelah tiga menit, aksi baku tembak berhenti. Warga (petani) setempat yang melihat aksi tersebut tampaknya kaget dan langsung berkumpul di beberapa titik untuk mengamankan diri. Situasi akhirnya tenang. Selama setengah jam, petugas terus memantau pergerakan si penembak. Polisi kembali melihat gerakan yang mencurigakan dari lokasi pertama. Tidak ingin kecolongan, tim Opsnal dan tujuh anggota Brimob langsung menghujani tembakan ke sasaran.
Namun, setelah dua menit berlangsung, sama sekali tidak terlihat jatuhnya korban. "Dia (pelaku penembakan) sepertinya langsung bersembunyi di balik bukit setelah mendengar tembakan pertama tadi," tutur salah seorang anggota Brimob sambil mengamati lokasi tersebut. Pantauan Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group) yang ikut dalam rombongan, lokasi kebun tempat penembakan memang sangat terbuka karena hanya ditanami pohon cabe dan sayur kol. Karena itu, meski sembunyi-sembunyi, pelaku tetap terlihat.
"Dari pengamatan kami, memang terlihat seorang warga sipil bersenjata yang juga menembaki kami beberapa kali. Untungnya, tidak ada yang terkena," jelas Kapolsek saat ditemui di sebuah pondok. Setelah menunggu dua jam dan dipastikan pelaku melarikan diri, sekitar pukul 15.30 WIT rombongan meninggalkan lokasi. (ade/jpnn/end)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar